Di sebuah penjuru alam semesta yang tak tergapai, terdapat Andromeda, sebuah konstelasi yang digadang sebagai kisah hidup seorang putri. Di bawah kelip bintang yang megah, legenda itu dihidupkan kembali.
Andromeda, putri dari Cepheus dan Cassiopeia, lahir dengan sorot mata yang seolah menggenggam lautan luas. Keanggunannya dikenal di seantero kerajaan Aethiopia. Namun, kecantikan itu menjadi permulaan badai.
Suatu pagi yang penuh ketenangan, angin mulai membawa kabar buruk. Para nelayan kembali dari lautan dengan wajah suram, menyampaikan pesan sang dewa laut, Poseidon. “Ratu Cassiopeia,” kata salah seorang tua kepada rakyat yang berkumpul di pelabuhan, “kesombonganmu telah membangunkan murka ilahi.”
Andromeda memandangi ibunya yang hanya tertawa kecil, “Aku hanya mengatakan yang benar. Siapa yang lebih cantik daripada aku?” kata Cassiopeia sambil mengibaskan jemari.
Namun, kesombongan ini membawa petaka besar. Poseidon mengirim Cetus, monster laut ganas, untuk menghancurkan pantai-pantai mereka. Ketakutan menjalar di seantero kerajaan. Persembahan demi persembahan dikirimkan ke kuil dewa-dewi, tetapi Cetus tak pernah berhenti.
Para Pendeta, berselimut pakaian putih, memberikan nubuat gelap. “Hanya dengan mengorbankan Andromeda, kita dapat menyelamatkan negeri ini.”
“Tidak!” Cepheus berteriak, menoleh pada para penasihat. “Apakah tak ada cara lain?”
Seorang pendeta menundukkan kepala. “Hanya dewa yang tahu jalan keluarnya, Tuanku.”
Ketika hari eksekusi tiba, Andromeda berdiri di tepi tebing berbatu dengan tenang. Ranting-ranting pohon menari di atas angin laut yang tajam, sementara dirinya diikat pada bebatuan kasar. Wajahnya bersinar dalam keyakinan meski nasibnya kelam.
“Kenapa kau diam saja, Nak?” suara pelan Cepheus pecah di udara. Dia berdiri dekat rantai yang mengikat putrinya. “Katakan padaku untuk menghentikan ini, maka aku akan melawan siapa pun, bahkan para dewa.”
Andromeda tersenyum lembut. “Ayah, ini kehendak surga. Jika darahku adalah harga bagi rakyat kita, biarlah ini menjadi takdirku. Jangan menangis untukku.”
Sementara Cetus mulai muncul dari lautan, menciptakan pusaran gelombang besar, suasana menjadi mencekam. Kerajaan ini menahan napas. Namun, saat bayang kehancuran seolah tak terelakkan, sebuah sinar terang berkilau di cakrawala.
“Jangan takut, Putri Andromeda!” Sebuah suara yang kokoh terdengar menggema. Dari langit, datanglah Perseus, anak Zeus yang agung. Bersama Pegasus, kuda bersayapnya, dia melayang turun seperti dewa penolong.
Andromeda memandangi pria itu dengan kekaguman. “Siapakah engkau?” tanyanya lirih.
“Namaku Perseus. Aku datang membawa hadiah dari Athena. Tidak akan ada lagi air mata di sini.”
Sebelum siapapun sempat bertanya lebih jauh, Perseus mengangkat sesuatu dari balik pelindungnya—kepala Medusa yang matanya mampu mengubah batu menjadi hidup. Dengan satu tebasan tegas dan tatapan mematikan dari kepala tersebut, Cetus runtuh, hancur dan menghilang ke kedalaman.
Sorak sorai menggelegar di tepian pantai, menggema ke segala penjuru negeri. Andromeda terbebas dari ikatan, melangkah mendekati Perseus.
“Apakah aku bermimpi?” tanya Andromeda dalam bisikan, nadanya penuh harap.
Perseus menatapnya dengan tatapan teduh. “Aku lebih nyata daripada mimpi terindah sekalipun, Andromeda. Hanya saja, aku telah memimpikanmu bahkan sebelum mengenal namamu.”
Air mata Andromeda menetes, bukan karena kesedihan, melainkan karena syukur.
Mereka kembali ke istana dengan kegembiraan membara. Cepheus dan Cassiopeia menyambut putri mereka dengan penuh penyesalan. “Kami egois,” ucap ibunya dengan lemah. “Anak seindah kau, hampir kami korbankan hanya demi kesombongan kami.”
Andromeda memegang tangan ibunya. “Kesalahan kita semua ditebus dengan cinta. Belajarlah untuk tidak membiarkan kecantikan membutakan hati.”
Hari itu menjadi awal dari kehidupan baru. Perseus mempersunting Andromeda, namun ia juga membawa pesan untuk rakyat negeri itu. “Kekuasaan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh kehebatannya sendiri, tetapi oleh pengorbanan bagi rakyatnya,” katanya di hadapan seluruh kerajaan.
Dalam kedamaian di bawah langit berbintang, Andromeda berbicara kepada Perseus, “Apa yang sebenarnya membuatmu turun dari langit, mengorbankan waktumu untuk melindungi seorang putri yang tak pernah kau kenal sebelumnya?”
Perseus memandangnya dalam-dalam. “Dewi Athena berbicara padaku, tetapi hatiku yang memaksa langkahku. Aku datang bukan hanya untuk menyelamatkan negeri ini. Aku datang karena tahu hidupku tak akan pernah utuh tanpa kehadiranmu di sisiku.”
Andromeda tersenyum. “Kau membuat kisah kita seindah legenda para bintang.”
Setelah bertahun-tahun kemudian, nama mereka ditulis tidak hanya di dalam lembar sejarah, tetapi juga di kanvas langit, menjelma menjadi gugusan bintang yang kita saksikan hingga hari ini. Dan demikianlah Andromeda dan Perseus, menjadi lambang dari cinta yang menyelamatkan segalanya.
Di langit yang luas, Andromeda tetap bercahaya, mengingatkan kita bahwa cinta, keberanian, dan pengorbanan adalah satu-satunya warisan abadi manusia.
Kisah Andromeda dan Perseus mengajarkan kita bahwa cinta dan keberanian mampu mengatasi segala badai, bahkan ketika harapan terasa sirna. Ketika Andromeda rela mengorbankan dirinya demi keselamatan rakyatnya, dan Perseus mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan sang putri, kita diingatkan bahwa kasih yang sejati selalu disertai dengan pengorbanan. Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Warisan abadi mereka menjadi inspirasi, bahwa cinta yang tulus memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, bahkan hingga ke kanvas langit.