Dalam sebuah malam yang tenang di depan rumah kami, suasana terasa seperti saat-saat nostalgia yang kerap kami rindukan. Adik saya baru pulang dari Australia, tempat yang bagi kami terasa seperti nirwana. Kebahagiaan dan kerinduan mengisi pertemuan kami, dan dalam kehangatan tersebut, kami sering kali terjebak dalam percakapan tentang masa lalu. Malam itu, perbincangan kami mengalir ke arah kenangan masa kecil—kenangan yang sering kali dipenuhi dengan kemarahan dan ketidakpuasan dari orang tua.
Saat itu, kami menceritakan betapa seringnya kami dimarahi. Tiap kali kami berbuat sesuatu, orang tua selalu menemukan alasan untuk kecewa. Kami merasa seperti anak-anak yang terus menerus diperbandingkan dengan anak-anak lain yang konon lebih sempurna. “Lihatlah anak-anak orang itu,” kata mereka, “mereka tidak pernah bermain-main. Mereka selalu menurut. Kalian? Kalian hanya bermain sepanjang waktu dan tidak pernah menuruti kata-kata kami. Apakah kalian berharap kami cepat meninggal?” Ketidakadilan dan kemarahan itu menjadi topik utama percakapan kami di depan rumah, sampai larut malam.
Adik saya, yang baru kembali dari Australia, tampak terinspirasi oleh suasana tersebut. Dengan penuh semangat, dia pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah gelas berisi air setengah penuh. Gelas itu diletakkannya di depan saya dan berkata, “Lihatlah gelas ini. Kau melihat gelas ini setengah berisi dan setengah kosong, bukan? Sekarang, dari gelas ini, yang mana yang kau lihat? Apakah kau melihat sisi yang kosong atau sisi yang berisi airnya?”
Dia melanjutkan, “Begitulah bang, cara pandang kita terhadap orang tua kita dulu. Mereka hanya melihat sisi kosong dari gelas itu dan hampir tidak pernah melihat sisi yang berisi air. Mereka fokus pada kekurangan kita dan bukan pada apa yang telah kita capai. Itulah sebabnya mereka selalu marah dan kecewa. Mereka tidak pernah melihat sisi baik kita, hanya sisi buruknya saja.”
Selama adik saya menyampaikan pemikirannya, saya hanya bisa terdiam. Pikiran itu terasa sangat benar – orang tua kami memang cenderung melihat sisi kosong gelas. Mereka tidak pernah melihat pencapaian kami atau usaha-usaha kami, hanya melihat kekurangan dan kesalahan kami. Sisi positif dari diri kami tidak pernah mendapat perhatian yang layak.
Percakapan malam itu membawa kami pada kesadaran baru. Kami mulai menyadari bahwa jika kami terus melihat diri kami dengan cara yang sama seperti cara orang tua kami melihat kami, maka kami akan terus merasa tidak berdaya dan terpuruk. Adik saya, dengan refleksi mendalamnya, memberikan pencerahan. Mungkin inilah saatnya untuk merubah cara pandang kami terhadap diri sendiri dan mengalihkan fokus pada sisi penuh gelas, pada pencapaian dan potensi kami, alih-alih terus-menerus meratapi kekurangan.
Dengan langkah ini, mungkin kami bisa mulai membangun kepercayaan diri yang hilang dan menghadapi tantangan hidup dengan pandangan yang lebih positif. Melihat gelas dari sudut pandang yang berbeda—melihat sisi yang berisi airnya—mungkin bisa mengubah cara kami merespons dunia dan orang-orang di sekitar kami. Ini bukan hanya tentang memperbaiki pandangan kami terhadap diri sendiri, tetapi juga tentang memberi kesempatan bagi diri kami untuk tumbuh dan berkembang tanpa dibatasi oleh bayangan masa lalu.
Mengingat kenyataan ini, kita diajak untuk merenungkan firman Tuhan dalam Filipi 4:8, “Akhirnya, saudara-saudara, apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci, apa yang manis, apa yang sedap didengar, jika ada kekuatan kebajikan dan jika ada pujian, pikirkanlah semuanya itu.” Tuhan mengajarkan kita untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang baik dan positif, menghargai diri sendiri, serta melihat sisi terang dalam setiap situasi, termasuk dalam perjalanan hidup kita yang penuh tantangan. Ketika kita mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri, kita memberi ruang bagi potensi dan kekuatan untuk berkembang, seperti yang seharusnya kita lakukan sejak dahulu.