Di suatu hari yang damai di Surga, di teras rumah Allah Bapa yang indah dan terang, Pdt. Pen duduk dengan tenang. Angin sejuk menyapa wajahnya, membawakan aroma bunga-bunga Surga yang abadi. Meski dikelilingi oleh keindahan yang sempurna, ada satu hal yang terus menyelimuti hatinya: kerinduan mendalam akan sahabatnya, Pdt. Robert, yang telah mendahuluinya berpulang.
Tak lama, sebuah suara lembut memanggil namanya. Ketika Pdt. Pen menoleh, hatinya berdegup kencang. Di hadapannya, berdiri sosok yang sangat dikenalnya—Pdt. Robert. Dengan senyum khasnya yang penuh kerendahan hati, Pdt. Robert mendekat dan mengulurkan tangan.
“Pen, akhirnya kita bertemu lagi,” kata Pdt. Robert dengan nada penuh kedamaian.
Mata Pdt. Pen berkaca-kaca. “Robert, aku begitu merindukanmu,” ucapnya dengan suara gemetar. “Aku ingin sekali menceritakan semuanya padamu. Tapi pertama-tama, maukah kau minum kopi bersamaku di sini?”
Pdt. Robert tersenyum hangat. “Tentu saja, Pen. Aku selalu siap untuk sebuah percakapan yang baik, terutama dengan seorang sahabat.” Keduanya duduk di kursi yang nyaman di teras, memandang pemandangan Surga yang mempesona. Cangkir-cangkir kopi muncul di depan mereka, wangi yang menyenangkan mengisi udara. “Aku ingin kau tahu,” mulai Pdt. Pen, “bahwa aku selalu mengagumimu. Aku berusaha mencari-cari kesombongan dalam dirimu, tapi aku tak pernah menemukannya. Kau selalu rendah hati, selalu tenang, bahkan ketika kau memiliki begitu banyak bakat sebagai komponis.”
Pdt. Robert menghela napas pelan, lalu menatap Pdt. Pen dengan lembut. “Pen, segala yang kulakukan hanyalah untuk kemuliaan Allah. Musik yang aku ciptakan, hidup yang aku jalani, semuanya hanya pantulan dari kasih karunia-Nya. Aku hanyalah hamba-Nya, dan tak ada yang perlu dibanggakan dari diriku selain Dia.”
Pdt. Pen mengangguk, matanya masih berkaca-kaca. “Tapi, kau harus tahu, Robert, bahwa keluargamu baik-baik saja. Mereka merindukanmu, tetapi mereka tahu bahwa kau telah pergi ke tempat yang lebih baik. Mereka hidup dengan damai, membawa warisan yang kau tinggalkan.” Sebuah senyum lembut muncul di wajah Pdt. Robert. “Terima kasih telah menyampaikan itu, Pen. Itu membawa kedamaian bagi jiwaku di sini.” Pdt. Pen meneguk kopinya, merasakan kehangatan yang menyelimuti hatinya. “Aku sering berpikir tentang saat ini, Robert. Bagaimana kita akan bertemu lagi di sini, di Surga, dan bercerita panjang lebar. Aku selalu ingin memberitahumu bahwa aku sangat bangga padamu.”
Pdt. Robert tersenyum lagi, kali ini dengan mata yang berkilau. “Dan aku, Pen, selalu bangga padamu. Kau adalah seorang sahabat yang setia, seorang pelayan yang penuh dedikasi. Jangan pernah meragukan itu.”
Sejenak, keduanya terdiam, menikmati kedamaian Surga dan kehangatan persahabatan yang abadi. Lalu, Pdt. Pen berkata dengan nada yang lebih ringan, “Jadi, apa yang kau lakukan di sini, Robert? Apakah kau terus menulis musik untuk paduan suara Surga?”
Pdt. Robert tertawa lembut. “Di sini, musik jauh melampaui apa yang bisa kubayangkan di dunia. Namun, aku tetap menciptakan lagu-lagu, kali ini bersama dengan para malaikat. Tapi yang paling aku nikmati adalah kedekatan dengan Allah Bapa, dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kusayangi, seperti dirimu.” Pdt. Pen tersenyum lebar, merasa beban di hatinya mulai terangkat. “Aku senang mendengarnya. Aku selalu membayangkan kita duduk seperti ini, berbicara tentang hidup dan kasih karunia yang kita alami.” Pdt. Robert mengangguk. “Dan itulah yang kita lakukan sekarang, Pen. Kita di sini, dalam keabadian, berbagi sukacita yang tak pernah pudar.” Dalam keheningan yang tenang, Pdt. Pen merasa hatinya mulai pulih. Ia tahu, pertemuan ini adalah jawaban atas doanya, sebuah kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang indah. Mereka terus berbicara, mengenang momen-momen di dunia, berbagi tawa dan kadang-kadang air mata, sampai akhirnya keduanya merasa damai.
“Sekarang aku bisa benar-benar ‘move on’, Robert,” kata Pdt. Pen dengan senyum lembut. “Aku tahu kau ada di tempat yang baik, dan aku bahagia bisa mengenangmu dengan damai.” Pdt. Robert menepuk bahu Pdt. Pen dengan penuh kasih. “Terima kasih, Pen. Sampai kita bertemu lagi nanti di sini, atau di mana pun Allah menempatkan kita.” Dengan kata-kata itu, keduanya bangkit, dan dengan rasa damai yang mendalam, mereka berjalan bersama menuju keindahan Surga yang tak terbatas, meninggalkan teras rumah Allah Bapa dengan hati yang penuh syukur dan sukacita.
Dalam ketenangan yang abadi di Surga, Pdt. Pen merasakan kedamaian yang begitu mendalam saat bertemu kembali dengan sahabatnya, Pdt. Robert, yang telah mendahuluinya. Percakapan mereka yang penuh kasih, rendah hati, dan penuh kedamaian mengingatkan kita pada betapa indahnya persahabatan yang dibangun dalam kasih Kristus. Bahkan di dalam keabadian, hubungan mereka tetap terpelihara dalam sukacita yang sempurna, sebagai wujud dari kasih Allah yang tak pernah pudar. Ketika Pdt. Pen merenungkan kembali kehidupan sahabatnya, dia mengagumi kerendahan hati Robert, yang dalam segala karya dan musiknya, hanya ingin memuliakan Allah. Sebuah pengingat bagi kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini seharusnya adalah untuk kemuliaan Allah, karena di dalam Dia, kita menemukan kedamaian sejati. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Seperti Pdt. Robert yang terus menciptakan lagu-lagu bersama para malaikat, kita pun diundang untuk terus hidup dalam damai, berbagi sukacita, dan menyebarkan kasih-Nya kepada sesama, sampai akhirnya kita bertemu kembali dalam kemuliaan yang kekal.