Di tengah hiruk-pikuk budaya Batak yang menjadikan anak sebagai lambang berkat tertinggi dalam keluarga, ada satu cerita yang tak pernah tersuarakan dengan lantang: Perjalanan hati keluarga-keluarga yang belum atau tidak dikaruniai anak. Masyarakat, dalam adatnya yang agung, sering kali tanpa sadar menambahkan beban berat di pundak mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana seperti, “Sudah punya anak berapa?”, atau ucapan penghiburan yang terkesan menyentuh, justru menjadi duri kecil yang melukai pelan tetapi dalam.
Namun, mari kita berhenti sejenak dan mengarahkan pandangan kepada Tuhan. Allah, Sang Empunya kehidupan, tidak pernah keliru. Kisah keluarga tanpa anak bukanlah kisah kekurangan, tetapi sebuah kisah tentang rencana besar yang belum semua orang memahami keindahannya.
Firman Tuhan dalam Mazmur 139:13-14 mengatakan: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”
Setiap kehidupan adalah karya tangan Allah, termasuk keluarga yang mungkin tidak memiliki anak biologis. Allah tidak pernah membuat kesalahan. Jika Anda dan pasangan belum dikaruniai anak, itu bukan kutukan. Tidak ada kutukan bagi mereka yang hidup dalam kasih karunia Allah.
Ketidakadaan anak tidak mendefinisikan identitas atau keberhargaan Anda. Anda diciptakan segambar dengan Allah. Anda berharga dan dicintai-Nya. Jangan pernah mengizinkan penilaian manusia untuk mencuri sukacita yang telah Tuhan tempatkan dalam hidup Anda.
Ketika seseorang menghadapi perasaan kurang atau minder karena tidak memiliki anak, ada panggilan untuk melihat lebih dalam pada rencana Allah. Jika kita berani mengubah perspektif kita, ada potensi besar yang Allah tanamkan di dalam situasi ini untuk menjadi berkat.
Bukankah Allah memanggil kita semua untuk berbuah—dan buah itu tidak selalu berarti keturunan secara fisik? Berbuah dalam iman, berbuah dalam kebaikan, berbuah dalam pelayanan, semuanya adalah hal yang sama berharganya di mata Tuhan.
Sejarah iman mencatat banyak pasangan yang hidup tanpa anak, tetapi Allah menjadikan mereka alat kemuliaan-Nya:
- Yesus dan Paulus: Tuhan Yesus sendiri, sebagai teladan hidup sempurna, tidak menikah atau memiliki anak secara biologis. Rasul Paulus, yang menulis sebagian besar Perjanjian Baru, juga tidak memiliki keluarga dalam pengertian tradisional, tetapi lihatlah dampak iman mereka dalam kehidupan banyak orang.
- Hana Sebelum Samuel Lahir (1 Samuel 1): Sebelum Hana memiliki Samuel, ia berdoa bertahun-tahun dengan air mata. Meski belum memiliki anak, hatinya tetap mengarah kepada Allah. Bahkan dalam keluh kesahnya, ia menyerahkan hidup sepenuhnya.
- Suami-Istri sebagai Ayah dan Ibu Rohani: Ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan sentuhan kasih, bimbingan, dan dukungan. Banyak dari mereka adalah “anak-anak” dalam pengertian iman. Ketiadaan anak biologis dalam hidup kita memberi kita ruang yang lebih luas untuk menjadi berkat sebagai ayah dan ibu rohani bagi banyak orang.
Sebagai pasangan, Anda tetap bisa membangun kehidupan yang penuh kebahagiaan. Sukacita sejati datang dari relasi kita dengan Tuhan dan saling melayani dalam kasih. Fokuslah pada berkat-berkat yang telah Tuhan berikan. Perjalanan ini mungkin membuat Anda lebih bergantung pada-Nya, dan itu adalah tempat yang paling indah untuk hidup.
Tuhan bisa memanggil keluarga Anda untuk menjadi saluran berkat melalui cara-cara yang unik, seperti: Mengadopsi anak dan memberikan harapan bagi mereka yang kehilangan keluarga.
Membantu sesama melalui talenta dan bakat yang Tuhan karuniakan, menjadi saksi tentang kebaikan-Nya.
Menghadapi pandangan negatif dari komunitas atau lingkungan sekitar sering kali menjadi ujian tersendiri. Setiap kali Anda mendengar pertanyaan seperti, “Kapan punya anak?” ingatlah bahwa nilai Anda tidak tergantung pada jawaban Anda.
Tentu wajar jika Anda merasa sakit hati atau terpukul. Namun, izinkan kasih Tuhan menyembuhkan luka itu. Belajarlah menjawab dengan keberanian iman: “Kami tidak memiliki anak, tetapi kami yakin Tuhan punya rencana yang indah untuk kami.” Kalimat ini sederhana, tetapi menunjukkan penerimaan diri dan iman yang kuat.
Yeremia 29:11 berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Rencana Allah tak pernah gagal. Dia adalah Bapa yang selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya. Ingatlah, kasih karunia-Nya cukup, kekuatan-Nya sempurna dalam kelemahan kita (2 Korintus 12:9).
Pasangan yang belum memiliki anak dipanggil untuk hidup penuh iman, sama seperti semua orang percaya. Tugas kita bukan menuntut Tuhan menjawab doa kita sesuai keinginan kita, tetapi percaya bahwa apa pun kehendak-Nya adalah yang terbaik.
Ucapkanlah syukur setiap hari untuk hidup, untuk pernikahan Anda, dan untuk jalan Tuhan yang misterius tetapi indah. Sukacita terbesar tidak datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa kita menjadi di dalam Kristus.
Percayalah, perjalanan ini bukan tentang “apa yang hilang,” tetapi tentang “apa yang Tuhan sedang ciptakan.” Anda tidak kehilangan berkat; Anda justru menjadi bagian dari rancangan Allah yang melampaui pemahaman manusia.
Berjalanlah dengan kepala tegak, penuh iman, dan hati yang melimpah dengan syukur. Ketahuilah bahwa Anda berharga, dikasihi, dan tidak kurang dari siapapun. Ketidakadaan anak bukanlah tanda kekurangan, tetapi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Anda adalah anak-anak Allah yang hidup dalam kemenangan dan kasih-Nya.