Di sebuah Fakultas Teologi di Pematangsiantar, aku memulai perjalanan akademikku setelah menamatkan SMA dengan jurusan IPA. Aku bertemu dengan seorang teman sejurusan, Sarifin, yang juga berasal dari marga Saragih seperti aku. Koneksi ini terasa istimewa karena kami berdua adalah utusan dari GKPS yang mendaftar di fakultas yang sama, sementara mahasiswa lain berasal dari gereja-gereja yang berbeda. Persahabatan kami berkembang pesat, dan kami merasa terhubung erat sebagai saudara. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasakan munculnya persaingan yang perlahan tumbuh di dalam diriku.
Setiap semester, aku merasa frustrasi melihat perbedaan mencolok dalam nilai antara kami. Sarifin, meski aku merasa dia kurang memahami materi, selalu mendapatkan nilai A atau A+ dalam ujian. Sementara aku, meskipun berusaha keras, sering kali hanya memperoleh nilai C atau B-. Ketidakpuasan ini semakin memuncak ketika aku memutuskan untuk mencoba strategi ekstrem – mengganggu Sarifin di malam sebelum ujian. Aku berharap dengan mengganggu persiapannya, aku bisa membuktikan bahwa aku lebih siap dan lebih pandai. Namun, meskipun aku telah belajar secara mendalam dan menguasai materi, hasil ujian tetap mengecewakan. Sarifin kembali meraih nilai A-, sedangkan aku hanya memperoleh C+.
Merasa terpuruk dan bingung, aku memutuskan untuk mencari penjelasan lebih lanjut dari dosen kami yang baru saja kembali dari Jerman. Dosen tersebut, yang meraih predikat Summa Cum Laude dari Universitas Heidelberg, hadir di kantin saat kami bersantai. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkapkan kegundahan hatiku. Sambil duduk di kantin, aku memulai percakapan dengan penuh rasa ingin tahu, “Pak, terima kasih telah meluangkan waktu. Saya ingin bertanya tentang sesuatu yang sangat serius.”
Aku menceritakan semua masalah yang kuhadapi – perbedaan nilai antara aku dan Sarifin, meskipun aku merasa telah berusaha lebih keras. Aku kemudian bertanya, “Bapak orang kampung sama seperti saya, tapi bisa meraih prestasi tinggi di Jerman. Bagaimana Bapak bisa berhasil seperti itu, sementara saya merasa hasil belajar saya tidak sesuai dengan usaha saya?”
Dosen tersebut tersenyum bijaksana dan menjelaskan, “Oh begini, Nak Rawalfen. Sarifin adalah anak yang baik, sopan, dan rajin. Di fakultas teologi, penilaian tidak hanya ditentukan oleh apa yang tertulis di kertas ujian. Dosen-dosen kita juga menilai berdasarkan persepsi awal mereka tentang mahasiswa. Mereka sudah memiliki gambaran tentang karakter mahasiswa sebelum melihat hasil ujian.”
Dosen itu melanjutkan, “Kita tidak berada di jurusan eksakta di mana angka-angka dan perhitungan menentukan segalanya. Di sini, cara kita menyampaikan ide, bagaimana kita berinteraksi dengan dosen, dan sikap kita sehari-hari sangat mempengaruhi penilaian. Jika dosen memiliki persepsi positif tentang kita, mereka cenderung memberikan penilaian yang lebih baik. Jadi, penting untuk membangun hubungan yang baik dengan dosen dan menunjukkan bahwa kita benar-benar tertarik dan berkomitmen pada mata pelajaran mereka.”
Aku mendengarkan dengan saksama, mulai memahami bahwa nilai yang diberikan dosen tidak hanya didasarkan pada hasil ujian semata. Dosen sudah memiliki penilaian awal yang dapat mempengaruhi cara mereka menilai pekerjaan kita. “Jadi, apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki hubungan saya dengan dosen dan memperbaiki nilai saya?” tanyaku penuh harap.
Dosen tersebut memberikan saran yang sangat berharga, “Ciptakan citra positif di depan dosen. Tunjukkan sikap sopan, hormat, dan minat yang mendalam terhadap mata pelajaran mereka. Usahakan untuk selalu menunjukkan bahwa kamu benar-benar siap dan antusias dalam setiap pelajaran yang diajarkan. Hubungan yang baik dengan dosen sangat penting, karena mereka melihat lebih dari sekadar kertas jawaban—mereka melihat siapa kamu sebagai mahasiswa.”
Pelajaran yang kuambil dari percakapan tersebut sangat berharga. Ketika aku melanjutkan studi S3, aku mulai menerapkan nasihat tersebut. Aku menjaga hubungan yang sangat baik dengan semua dosen, berusaha menjadi mahasiswa yang sopan dan aktif dalam setiap kesempatan. Aku menunjukkan bahwa aku benar-benar menghargai pelajaran mereka dan selalu siap dengan materi yang diajarkan. Dengan menjaga sikap positif dan berusaha menciptakan kesan yang baik di mata dosen, aku akhirnya bisa meraih posisi teratas di antara empat puluh enam mahasiswa lainnya. Hasilnya, nilai-nilai akademisku meningkat drastis, dan aku selalu berada di posisi teratas.
Pengalaman ini mengajarkanku bahwa dalam dunia akademis, hubungan dengan dosen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai kita. Memahami bahwa penilaian dosen bisa dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang kita, bukan hanya berdasarkan hasil ujian, adalah kunci untuk mencapai kesuksesan akademis. Membangun hubungan yang baik dan menunjukkan sikap yang tepat dapat membuat perbedaan besar dalam cara dosen menilai pekerjaan kita.
Pengalaman ini menggarisbawahi pentingnya membangun hubungan yang positif dengan dosen dalam perjalanan akademis. Dalam lingkungan akademik yang lebih bersifat kualitatif seperti fakultas teologi, penilaian tidak semata-mata berdasarkan hasil kertas ujian. Dosen kita adalah manusia yang memiliki persepsi awal tentang mahasiswa mereka, dan persepsi ini dapat mempengaruhi penilaian mereka terhadap karya kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya fokus pada aspek teknis dari studi kita tetapi juga pada cara kita berinteraksi dan membangun citra positif di mata dosen.
Bagi mereka yang sedang atau akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, inilah beberapa hal penting yang bisa dijadikan panduan. Pertama, ciptakan kesan yang baik sejak awal. Sikap sopan, hormat, dan antusiasme terhadap materi pelajaran sangat mempengaruhi bagaimana dosen memandang kita. Kedua, aktiflah dalam diskusi dan kegiatan kelas. Menunjukkan bahwa kita benar-benar terlibat dan tertarik pada materi pelajaran dapat meningkatkan persepsi positif dosen terhadap kita. Ketiga, jaga hubungan baik dengan dosen di luar kelas. Berkomunikasi secara terbuka, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan penghargaan terhadap bimbingan mereka dapat memperkuat hubungan ini.
Terakhir, ingatlah bahwa nilai akademik bukanlah satu-satunya indikator kesuksesan. Membangun keterampilan interpersonal dan profesional melalui hubungan baik dengan dosen dapat membuka berbagai peluang di masa depan. Dalam dunia akademis, kehadiran dan kontribusi kita sering kali dipengaruhi oleh bagaimana kita dilihat oleh mereka yang mengarahkan perjalanan studi kita.
Membangun hubungan yang positif dengan dosen bukan hanya tentang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga tentang membentuk jaringan yang dapat mendukung dan membimbing kita dalam perjalanan akademis dan profesional kita. Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga untuk terus maju, berusaha keras, dan menunjukkan dedikasi dalam setiap langkah yang kita ambil. Dengan cara ini, kita dapat menciptakan kesuksesan yang berkelanjutan dan memuaskan di dunia akademis dan di luar sana.
Teruslah berusaha dengan tekun dan jangan pernah meremehkan kekuatan dari hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitar kita, termasuk dosen. Ini adalah kunci untuk membuka banyak pintu kesempatan dan mencapai keberhasilan yang lebih besar dalam pendidikan dan karier kita.
Cerita ini mengajarkan kita pentingnya memahami bahwa kesuksesan akademis tidak hanya bergantung pada usaha individu semata, tetapi juga dipengaruhi oleh hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita, terutama dosen. Seperti yang disarankan oleh dosen tersebut, membangun citra positif, sikap sopan, dan antusiasme terhadap materi pelajaran dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap penilaian dan kesuksesan akademis. Dalam Filipi 2:3-4, kita diingatkan untuk tidak melakukan apapun dengan motif yang salah, tetapi dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama dari diri kita sendiri, dan memperhatikan kepentingan orang lain. Sebagaimana dalam hubungan kita dengan dosen, memperlakukan mereka dengan hormat, menjaga komunikasi yang baik, serta menunjukkan ketulusan dalam belajar, dapat membuka banyak peluang dan membawa kita pada kesuksesan yang lebih besar. Dengan demikian, perjalanan akademis tidak hanya soal menguasai materi, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun hubungan yang mendalam dan positif di setiap aspek kehidupan kita.