Keluarga saya sangat merasa sedih ketika kami memutuskan untuk mengunjungi kampung mertuaku. Sebenarnya, niat kami saat itu adalah untuk membahagiakan mertuaku, namun, penampilan dan raut wajah kami tidak mencerminkan kebahagiaan yang ingin kami tunjukkan. Kami duduk bersama mertua dengan nada suara yang penuh kesedihan dan berkata, “Tulang, kami dan anakmu sangat minta maaf. Kami telah berusaha sebaik mungkin dalam hidup ini, tapi hingga kini kami masih miskin dan menderita. Kami minta maaf karena kami belum bisa sedikit membahagiakan Tulang. Sudah banyak yang kami tanam, tapi belum pernah kami mendapatkan hasil yang memuaskan.”
Mertuaku mendengarkan dengan seksama dan kemudian memberikan nasihat yang sangat berharga. “Begini nak,” katanya dengan bijaksana, “kulihat kalian yang beragama ini biasa-biasa saja. Seperti ber-Tuhan seperti tidak. Seperti rajin ke gereja seperti tidak. Janganlah kita melakukan sesuatu dengan setengah hati. Apapun yang kalian kerjakan, kerjakanlah itu dengan serius dan sungguh-sungguh. Demikian juga kita yang ber-Tuhan ini. Kalian tentukanlah suatu hari, dengan serius kalian pergi ke Gereja pada malam hari tepat pada jam 12 malam. Kalian mintalah kunci dari penjaga Gereja itu, berpakaianlah kalian (kau dan istrimu) bersih dan serapi mungkin, bawalah satu tikar putih, dan tepat pada jam 12 malam itu, dengan sebuah lilin, bersujudlah kalian di bawah altar Gereja itu di atas tikar putih itu, berdoa kepada Tuhan meminta apa yang kalian butuhkan.
Tuhan itu juga seperti manusia. Dia juga punya perasaan mengasihi kepada orang yang baik hati dan sungguh-sungguh meminta sesuatu dengan kerendahan hati. Tidak ada yang Dia tidak bisa lakukan. Segala-galanya ada di tangan Dia. Jadi, kecil sekali permintaan kalian itu bagi Dia. Sedangkan menciptakan dunia sebesar ini pun Dia bisa. Apalagi seperti kebutuhan kalian itu. Kecillah itu bagi Dia. Datanglah, pergilah, bawalah istrimu itu, lakukan seperti yang saya bilang itu. Pasti berhasil. Tuhan tidak akan mengecewakan kalian, asal kalian datang dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Sedangkan kita menghadap dukun juga harus bersikap seperti itu. Ini kalian pergi ke Gereja, ikut kebaktian keluarga, begitu-begitu saja kalian yang ber-Tuhan ini. Di mana di situ kalian letakkan kebesaran Tuhan itu? Saya tidak melihat sesuatu pun dengan cara ber-Tuhan seperti itu. Pantaslah Tuhan itu pun ‘tidak tergerak hatinya sedikit pun’ dengan cara kalian memperlakukan Dia hanya seperti itu: pergi ke Gereja seperti orang lain, pergi ke kebaktian keluarga seperti orang lain.
Beragama itu tidak cukup hanya begitu. Beragama itu adalah ber-Tuhan. Perlakukanlah Tuhanmu itu dengan perlakuan seperti kepada Tuhan, bukan hanya sebatas kebiasaan, biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa dan khusus. Kau pun kalau hanya diperlakukan oleh orang lain secara biasa-biasa saja maka kau pun akan berlaku biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari pihakmu. Demikian juga dengan Tuhan itu, kita selaku manusia yang membutuhkan sesuatu, kita harus memperlakukan Dia Tuhan itu ‘istimewa’ agar Dia juga memperlakukan / berbuat sesuatu yang istimewa kepada kita. Begitu nak. Pulanglah kalian dari rumah ini dan lakukanlah itu.”
Mendengar nasihat mertuaku, perasaan kami seperti ditampar keras. Nasihat itu menjadi bahan percakapan utama di rumah kami setelah pulang dari kunjungan. Kami merasa tersentuh dan sangat tergugah oleh kata-katanya. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengikuti saran mertuaku dengan serius. Kami bertekad untuk pergi ke Gereja pada tengah malam, seperti yang telah disarankan.
Di suatu malam, dengan persiapan matang dan niat yang sepenuh hati, kami berangkat berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju Gereja. Dalam keadaan dingin dan gelap gulita, kami hanya berdua saja. Kami menggelar tikar putih di bawah altar Gereja, memasang lilin di samping tikar, dan tepat pada jam 12 malam, kami bersujud di atas tikar itu, menghadap altar dan berdoa dengan penuh kerendahan hati. “Ompung!, Bapa!, ini aku sudah datang beserta boruMu. Maafkan kami atas kelantangan kami ini, kami tidak pantas datang ke hadirat-Mu yang kudus di malam hari ini.” Aku mulai berbicara dengan menangis, dan istri di sampingku pun ikut menangis dalam keadaan berdoa. Aku melanjutkan doaku, “Kami datang untuk memberitahu-Mu bahwa dalam hidup kami, Kaulah Bapak kami yang sesungguhnya, dan kepada-Mu lah kami harus menyerahkan segala hidup kami dan menyampaikan segala permintaan kami. Malam ini sungguh-sungguh kami datang untuk memberitahu bahwa kami telah mengolah tanah kira-kira dua rantai dan sudah selesai kami olah. Rencana kami, Bapak (dengan isak dan suara jeritan), kami ingin menanam cabai. Tolonglah kami. Tidak ada yang tidak bisa Kau perbuat. Dengan pertolongan-Mu, pasti cabai kami itu akan berhasil. Karena rencana kami, Bapak, tahun ini semoga kami bisa membangun rumah ‘gubuk’ kami. Bantulah kami, Bapak. Bantulah kami, Bapak. Terimakasih dan pulanglah kami ke rumah kami. Dalam nama-Mu Yesus Kristus, kami serahkan semua kehadiran kami ini. Amin.”
Dua atau tiga hari setelahnya, kami mulai mempersiapkan tempat pembibitan. Kami mengusahakan untuk mendapatkan buah cabai yang bagus sebagai bibit dan langsung menanamnya. Dalam dua atau tiga bulan, cabai itu mulai tumbuh subur, dan di bulan keempat, bunga dan buah cabai mulai muncul. Di akhir bulan keempat, cabai-cabai itu sudah mulai menguning dan memerah dengan indah. Kami memutuskan untuk memanennya pada hari Jumat karena besoknya adalah hari Sabtu, hari pekan “Tiga Raya”. Pada sore hari, kami mengumpulkan dua goni besar penuh cabai merah yang bagus-bagus.
Esoknya, pada hari pekan, pedagang datang menjemput kami dan menanyakan, “Itu cabai ya? Tolong bukalah. Aduh, bagus-bagus ya.” “Berapa harganya, Pak?” tanya kami. “Oh, sekarang cabai lagi mahal. Cabai sebagus ini saya hargai Rp 20.000 per kilo. Yang lain-lain harganya hanya Rp 19.000.” Kami menimbang cabai tersebut dan hasilnya 200 kilogram. Dalam hati kami, sudah mulai menghitung: 200 x Rp 20.000 = Rp 4.000.000. “Wow, wow, wow, 4 juta” pikirku. Pedagang itu kemudian membuka dompetnya dan menyerahkan uang kepada istri kami. Dikasihlah uang pecahan seratus ribu. “Seratus ribu, dua ratus ribu, tiga ratus ribu, dan seterusnya…”
Aku merasa bahwa pemberian dari mertuaku itu adalah yang paling berharga. Mertuaku tidak memberikan sesuatu dalam bentuk materi, tetapi sebagai mertua yang teladan, dia justru memberikan yang terbaik dan termahal: dia memberikan Tuhan Yesus. Nasihat mertuaku tidak hanya berupa saran praktis, tetapi juga memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana memperlakukan Tuhan dengan kesungguhan hati dan percaya penuh. Ini adalah pengalaman yang sangat berarti dan menginspirasi, dan mengajarkan kepadaku bahwa memperlakukan Tuhan dengan cara yang istimewa akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa dalam hidup kita.
Ketika pedagang membeli cabai kami, kami merasa terharu. Pada saat itu, saat pedagang membuka dompetnya dan menyerahkan uang kepada istriku, aku melihat sesuatu yang luar biasa: langsunglah saya melihat bukan lagi tangan pedagang itu yang memegang uang dan memberikannya kepada istriku, tetapi benar-benar tangan Tuhan Yesus lah yang kulihat langsung memberikannya kepada istriku dan menghitungnya seratus ribu, dua ratus ribu, hingga empat juta rupiah. Hal ini bukan sekadar kebetulan, tetapi sebuah pengalaman spiritual yang menguatkan keyakinanku.
Pengalaman ini mengajarkan kita bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang seringkali melampaui pemahaman kita. Seperti yang tertulis dalam Filipi 4:19, “Allah akan memenuhi segala kebutuhanmu menurut kekayaan-Nya yang mulia dalam Kristus Yesus.” Saat kita datang kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dengan ketulusan dan kesungguhan, Dia tidak hanya memperhatikan kebutuhan kita, tetapi juga memberikan berkat yang melimpah. Mertuaku mengajarkan kami untuk memperlakukan Tuhan dengan cara yang istimewa, dan dengan keyakinan penuh, Tuhan menjawab doa kami dengan cara yang luar biasa. Pengalaman ini membuktikan bahwa ketika kita percaya dan berserah sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan akan membuka pintu berkat-Nya dengan cara yang tidak terduga, dan memberikan lebih dari yang kita harapkan.