Ada benarnya, saya kira betul saya adalah seorang pendeta yang sedikit sombong. Karena saya pikir walaupun tidak termasuk “top 3” di gereja saya (GKPS) tapi paling tidak saya pikir saya masuk ke “top 10”. Saya selalu berupaya membayangkan jenis-jenis pendengarku. Kubayangkan bakal ada tukang jualan kangkung, guru SD, tukang broker sembako ke kota-kota, guru SMA, Pegawai Kantor / Pejabat Negara ataupun Militer. Saya selalu berupaya menyampaikan Firman Tuhan itu dengan cara menyesuaikan dengan kemampuan dengar mereka. Untuk itu, sebelum menyampaikan khutbah, saya selalu mengupayakan membaca banyak buku literatur yang berkaitan dengan teks khotbah yang akan saya sampaikan, agar khotbah itu “upto date” kepada setiap tingkatan pendengar. Jangan kalah mode. Saya upayakan tukang jualan kangkung juga berbahagia dan bergembira, sampai ke tingkat Pejabat Tinggi akan puas mendengar khotbah saya.
Idola saya adalah petinju Mike Tyson dan penyanyi Michael Jackson. Saya melihat keduanya baik Mike Tyson waktu bertinju di atas ring maupun Michael Jackson saat bernyanyi di pentas, keduanya melakukan tugasnya dengan “all out”. Michael Jackson misalnya, ketika dia bernyanyi, rambutnya, mimik wajahnya, tangannya, tubuhnya, beserta kakinya, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki semuanya ikut bernyanyi. Begitu juga dengan Mike Tyson ketia dia bertinju, tidak ada sedikit pun dari bagian dirinya yang tertinggal yang tidak ikut bertinju. Dia bertinju dengan total seperti halnya Michael Jackson yang bernyanyi secara total. Tidak ada yang tersisa. Maka aku juga berupaya berkhotbah, mulai dari ujung rambutku sampai jari kakiku kuupayakan tidak ada yang tersisa, semua bagian tubuhku total ikut berkhotbah. Itulah makanya, saya sering, mulai hari Kamis sampai hari Jumat apalagi hari Sabtu saya tidak normal lagi makan, tidak normal tidur, karena saya fokus mempersiapkan diri berkhotbah di hari Minggu pagi. Siapa pun yang bertemu dengan aku mulai dari Hari Kamis sampai hari Minggu, tidak ada lagi yang bisa kulayani dengan baik. Demikian juga selesai berkhotbah. Turun saya dari mimbar saya menjadi sangat lemas. Pulang ke rumah makan pun menjadi tidak berselera. Peristiwa berkhotbah di Hari Minggu itu masih berpengaruh sampai hari Senin, Selasa dan Rabu. Padahal hari Kamis saya pun juga sudah tidak normal lagi karena saya sudah harus mempersiapkan khotbah saya untuk hari Minggu berikutnya. Hari Kamis mulailah aku mengumpulkan “interpreters of the Bible” dan buku-buku / literatur baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris. Semuanya itu saya harus baca di hari Kamis itu. Hari Jumat saya merenungkan audiens / pendengar saya bagaimana saya menyampaikan firman Tuhan itu sesuai dengan kapasitas dengar mereka. Begitulah seterusnya sampai hari Minggu. Hidup saya benar-benar tidak normal. Artinya, dari Senin sampai Sabtu hidup saya tidak normal / tidak seperti orang biasa. Memang saya tahu atau saya lihat seluruh anggota jemaat saya sangat bergembira, sangat puas dengan melihat saya berdiri di atas mimbar dan begitu saya memulai berkhotbah, mereka sudah mulai tertawa, ternganga-nganga menantikan apa yang keluar dari mulut saya. Hampir 30 tahun hidup saya selalu begitu, fokus kepada yang satu tadi yaitu tugas 100% menyampaikan firman Tuhan, tidak sempat dan tidak pernah lagi saya bisa bersantai, bersenyum ria dalam hidup saya.
35 Tahun kemudian saya pun pensiun. Dimasa pensiun, saya pergi jalan-jalan dan saya singgah disalah satu jemaat yang pernah saya melayani di sana 35 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih muda, masih baru menjadi pendeta. Waktu itu, saya melihat mereka hidupnya begitu sederhana, sangat sulit dan sangat miskin. Ibu-ibu harus turun ke jurang sejauh 500 meter untuk mengambil air minum, mencuci pakaian ataupun mencuci piring. Ibu-ibu itu pergi ke sungai (pancuran yang ada di hutan namanya hutan Sigiring-Giring) dengan menggendong anak dipunggung dan memegang pakaian-pakaian cucian ditangan kanan dan menjunjung air dikepala dari jurang itu. Saya melihat sangat sedih.
Desa yang saya sebutkan tadi namanya Bunga Sampang. Di desa itu kami selalu mengadakan kebaktian setiap hari rabu malam. Waktu kebaktian malam itulah sekali saya teringat kepada salah satu kenalan saya seorang “bruder” / tenaga misionaris dalam pengembangan masyarakat desa yang spesialis menangani proyek-proyek air minum. Oleh karena keprihatinan saya melihat sulitnya mereka mendapatkan air minum selama ini, maka dalam kebaktian keluarga itulah saya coba membuka diskusi tentang bagaimana mengatasi masalah air tersebut dengan menaikkannya langsung ke kampung dari hutan Sigiring-Giring dengan bantuan “bruder” tadi.
Hal itu saya pikir sangat mungkin sekali bisa kami capai kalau seluruh warga kampung rela bekerja secara gotong-royong. Begitulah, kami selalu mengadakan diskusi setelah selesai kebaktian malam. Sejak saat itu, model kebaktian malam telah berubah, sudah selalu diisi dengan diskusi-diskusi menyangkut masalah-masalah yang mereka hadapi setiap hari; dan mulailah satu demi satu anggota kian bertambah, sampai pada akhirnya rumah tempat kebaktian itupun sudah penuh sesak, dan kelihatannya mereka sangat bahagia dengan perkembangan itu.
Tibalah kepada kesepakatan, jadilah dihubungi “bruder” tersebut. Dekat dengan mata air itu kami harus membuat satu “dam” / bendungan besar dan tinggi. Semua ibu-ibu dan bapak-bapak termasuk saya mulailah bergotong royong membuat “dam” tersebut. Basah, berlumpur dan becek. Beberapa hari begitu, pekerjaan semakin parah dan serius. Saya pun ikut bekerja bersama ibu-ibu itu, sangkin sibuknya, karena saya bekerja memakai celana pendek, sampai nampaklah telor saya keluar tanpa saya sadari dan ibu-ibu itu sebagian melihatnya. Begitulah kerja sama dan gotong-royong kami berjalan dengan baik, dan jadilah air yang dari hutan Sigiring-giring dinaikkan ke desa sehingga mereka tidak lagi harus pergi ke jurang untuk mengambil air atau mandi melainkan mereka telah bisa mengambil air langsung dan mandi dikamar mandi desa dekat dengan rumah mereka.
Sekarang, mereka pun sangat gembira dan bahagia. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke jurang untuk mengambil air, cuci piring dan cuci pakaian. Disini yang paling banyak terbantu adalah kaum ibu-ibu.
Sekarang rumah mereka pun sudah mulai bersih, pekarangannya pun sudah mulai tertata rapih dan ibu-ibu pun sudah bergembira karena tidak capek lagi untuk mengambil air ke jurang.
Sebenarnya dari diskusi-diskusi tersebut, semakin disadarilah bahwa ternyata masih banyak lagi hal-hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemajuan dari desa itu. Seperti berbagai kebutuhan muncul dalam diskusi misalnya kebutuhan dalam meningkatkan dibidang pertanian / peternakan, dana sehat, kredit union, TB Control, Higiene Sanitasi, proyek gizi dan lain-lain.
Begitulah kondisi dan perkembangan kebaktian keluarga di desa bunga sampang, sehingga mulailah terkenal desa tersebut ke desa-desa sekitarnya. Dibentuklah juga panitia yang menangani proyek air minum tersebut: ada yang menjabat sebagai ketua, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi lain – yang selama ini belum pernah terjadi jabatan-jabatan / posisi-posisi seperti itu. Setelah dirasakan bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan proyek air minum, semakin tambahlah kepercayaan diri mereka untuk naik ke tingkat selanjutnya bahwa mereka sudah ingin meningkatkan pertanian mereka juga.
Sekarang mereka sudah lebih percaya diri lagi mengundang orang yang ahli dibidang pertanian dan ikut bergabung dalam diskusi setelah selesai kebaktian keluarga itu. Di diskusi pertanian tersebut, dibutuhkanlah lagi pembagian tugas: ditentukanlah beberapa orang menjadi pengurusnya: ada yang menjabat sebagai ketua dibidang pertanian, ada juga sekretaris, ada juga bendahara, dan ada juga seksi-seksi lengkap dengan pembagian job deskripsi masing-masing. Dari pembagian tugas di proyek air minum, ditambah lagi pembagian tugas dibidang proyek pertanian, jadi semakin banyaklah mereka yang mendapat posisi-posisi / jabatan di desa tersebut.
Setelah mereka merasa berhasil dengan kedua proyek itu: proyek air minum dan proyek pertanian, semakin timbullah kepercayaan diri mereka dan sekarang mereka mengsulkan lagi dalam diskusi, bahwa mereka sekarang sudah butuh peningkatan kesehatan. Dengan bersemangat mereka mengusulkan dalam diskusi agar mereka mengundang Dokter dari Rumah Sakit Bethesda untuk ikut didalam kebaktian rumah tangga itu untuk mendiskusikan apa jalan terbaik untuk meningkatkan kesehatan. Muncullah gagasan dari Dokter tersebut untuk mendirikan yang namanya proyek dana sehat. Seperti yang Dokter sebutkan, bahwa setelah ada nanti proyek dana sehat tersebut, mereka tidak perlu lagi berobat ke rumah sakit kecuali untuk penyakit-penyakit yang parah; kalau hanya untuk pertolongan pertama, mereka sudah bisa selesaikan di desa itu. Maka dipilihlah beberapa gadis untuk dilatih di rumah sakit beberapa bulan sampai mereka berhasil menjadi promotor kesehatan desa (promokessa).
Selesai pelatihan dari rumah sakit, para promokessa tersebut setiap pagi bergantian harus berdinas (memakai pakaian putih seperti perawat pada umumnya) menunggu pasien disebuah tempat yang sudah ditentukan. Begitulah kemajuan yang terjadi di desa itu sehingga hampir semua penduduk desa itu sudah hampir memiliki jabatan-jabatan tertentu. Dan sangat jelaslah kelihatan bahwa hampir masing-masing mereka sudah kelihatan lebih berbahagia, dan dari cara berbicaranyapun sudah kelihatan bahwa mereka sudah lebih percaya diri. Dan semua kejadian ini, jelas terlihat khususnya di kalangan desa-desa tetangga mereka.
Begitulah perkembangan yang terjadi di desa kecil ini, semakin lama semakin meningkat, mulai dari proyek air minum ke proyek pertanian, proyek kesehatan, kredit union, TB Control, Higiene Sanitasi, proyek gizi dan lain-lain. Waktu semua ini terjadi, saya pendeta mereka yang masih sangat muda – masih umur 25 tahun.
35 tahun kemudian, saya sudah tua dan sudah pensiun dan sudah tinggal di kota Jakarta, tidak lagi di desa kecil di daerah pedalaman seperti dulu. Tetapi dimasa-masa tua seperti ini, sangat terasa sekali kebutuhan bernostalgia mengenang dan melihat lagi secara langsung tempat-tempat dimana dulu tempat semasa muda kita melayani. Dan suatu ketika, pergilah saya menaiki mobil ke desa yang dulu yang namanya Bunga Sampang.
Dan waktu itu, ketika mereka melihat mobil saya datang dan saya turun dari dalam mobil itu, berlari-larilah beberapa ibu-ibu datang ke arah saya sambil menangis dan memeluk saya berkata: “aduh pendeta Pen… Aduh pendeta Pen… Kami sangat rindu sama kau”. “Kami tidak bisa melupakan kau. Kami masih tetap ingat waktu kita gotong royong dihutan Sigiring-giring. Aduh pendeta Pen…”. Saya terharu bahagia dan hampir menangis melihat penyambutan mereka yang sedemikian menggebu-gebu terhadap kedatangan saya ke kampung itu.
Tiba-tiba, di tengah sorak-sorai dan tangis haru mereka, seorang ibu menyatakan “Aduh Pendeta Pen, saya masih ingat waktu kita dulu bekerjasama bergotong royong membangun dam yang besar itu; hal itulah yang saya tidak pernah lupakan sampai-sampai celana pak pendeta molor kebawah; sampai-sampai Pak Pendeta tidak menyadari bahwa kami telah melihat sesuatu yang sama sekali tak terduga ‘1).”
Melalui pernyataan ibu ini, saya tersadar bahwa kesuksesan pelayanan seorang pendeta bukanlah terletak pada bagusnya khotbah-khotbahnya melainkan bagaimana dia mempraktekkan integritasnya dalam kehidupan nyata anggota jemaatnya. Betapa besar pengaruh yang dapat dimiliki oleh seorang pelayan / pendeta ketika dia berkomitmen penuh pada pelayanannya kepada kehidupan nyata dari anggota jemaatnya.
Setelah 35 tahun berlalu, pengalaman saya di desa Bunga Sampang mengajarkan pelajaran yang mendalam tentang esensi pelayanan sejati. Dulu, saya menganggap khotbah-khotbah yang saya sampaikan adalah puncak dari pelayanan saya sebagai pendeta. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tindakan nyata jauh lebih berharga daripada kata-kata di mimbar. Ketika saya kembali ke desa itu dan disambut dengan penuh haru oleh para ibu-ibu yang mengenang gotong-royong kami membangun bendungan, saya tersadar bahwa dampak sejati dari pelayanan terletak pada komitmen kita untuk terlibat langsung dalam kehidupan jemaat. Perubahan yang kami ciptakan bersama dalam menyelesaikan masalah air minum dan meningkatkan kualitas hidup mereka menunjukkan bahwa pelayanan tidak hanya tentang menginspirasi melalui khotbah, tetapi tentang memberikan solusi praktis yang membentuk kehidupan mereka secara nyata.
Pelajaran ini membawa saya pada pemahaman yang lebih dalam tentang arti integritas dalam pelayanan. Kesuksesan seorang pendeta tidak diukur dari seberapa baik ia dapat berbicara di mimbar, melainkan dari seberapa dalam ia mampu meresapi dan berkontribusi pada kehidupan nyata jemaatnya. Ketika saya melihat betapa besar pengaruh yang kami miliki melalui tindakan konkret—mulai dari pembangunan bendungan hingga peningkatan sistem kesehatan—saya sadar bahwa memberikan totalitas dalam pelayanan berarti melibatkan seluruh aspek diri kita, bukan hanya kemampuan retorika. Seperti Michael Jackson yang menyanyikan setiap lagu dengan seluruh tubuhnya dan Mike Tyson yang bertinju dengan seluruh keberaniannya, kita sebagai pendeta juga harus memberikan komitmen penuh dalam setiap tindakan nyata yang kita lakukan.
Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat berharga bahwa setiap tindakan kita sebagai pelayan mempunyai potensi besar untuk menciptakan perubahan positif. Dengan melibatkan diri secara langsung dalam tantangan yang dihadapi jemaat, kita tidak hanya memberikan penghiburan atau nasihat, tetapi juga solusi yang membangun harapan dan kesejahteraan. Memahami kebutuhan dan berkolaborasi dengan jemaat untuk mengatasi masalah-masalah mereka membawa dampak yang lebih mendalam daripada sekadar menyampaikan khotbah. Ini adalah panggilan untuk menilai ulang pendekatan kita terhadap pelayanan dan menyadari bahwa kesuksesan sejati terletak pada bagaimana kita berkomitmen untuk membuat perbedaan yang nyata dalam kehidupan orang lain.
Dalam refleksi ini, saya mengajak kita semua untuk mengevaluasi kembali tujuan dan metode pelayanan kita. Mari kita berkomitmen untuk tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi untuk bertindak dalam setiap kesempatan yang ada untuk mencapainya. Dengan memberikan diri kita sepenuhnya—seperti halnya Mike Tyson dan Michael Jackson—kita dapat mempengaruhi kehidupan orang lain dengan cara yang tak terduga dan luar biasa. Pelayanan yang otentik dan berharga adalah pelayanan yang terlibat langsung dan menyentuh aspek-aspek fundamental dari kehidupan jemaat, yang membawa dampak yang lebih besar daripada kata-kata semata.
Akhirnya, mari kita ingat bahwa pelayanan yang efektif tidak hanya mengandalkan retorika, tetapi pada tindakan yang mendalam dan penuh dedikasi. Ketika kita memberikan komitmen penuh dalam setiap langkah kita, kita membangun hubungan yang lebih kuat dan menciptakan perubahan yang langgeng. Perubahan ini bukan hanya tentang memperbaiki kondisi materi, tetapi juga tentang mengangkat semangat, membangun kepercayaan diri, dan menginspirasi jemaat untuk mencapai potensi terbaik mereka. Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya memenuhi panggilan kita sebagai pendeta tetapi juga berkontribusi pada pembentukan komunitas yang lebih baik dan lebih berdaya.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus melayani dengan sepenuh hati dan menjadikan setiap tindakan kita sebagai cermin dari komitmen dan integritas yang sejati. Dalam setiap kesempatan kita untuk memberi, mari kita gunakan kesempatan itu untuk membawa perubahan yang berarti dan memberikan dampak yang akan dikenang dan dihargai oleh mereka yang kita layani.
——————————————
1) Rupanya ternyata, sewaktu kerjasama gotong-royong itu terjadi, mereka rupanya telah melihat telor saya keluar. Dan kejadian: melihat telor saya itulah yang mereka tidak bisa lupakan terus-terusan tentang saya. Mereka tidak pernah mengingat khotbah saya yang berapi-api di setiap kebaktian Minggu pada Hari Minggu. Hal satu-satunya yang mereka ingat dari seorang Pendeta Pen adalah telornya yang nongol di waktu bekerja bergotong-royong itu. Tetapi karena adat yang begitu kental, seperti di desa pada umumnya yang sangat tradisionil, itu adalah sangat pantang mereka sebutkan / sampaikan.
Cerita ini menggambarkan bahwa pelayanan yang otentik dan efektif tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara di mimbar, tetapi pada tindakan nyata yang berdampak dalam kehidupan jemaat. Ketika pendeta menyadari bahwa khotbah yang disampaikannya tidak sekuat pengalamannya bekerja bersama masyarakat untuk mengatasi masalah air, ia menemukan makna sejati dari pelayanannya. Komitmen untuk terlibat langsung dalam kehidupan jemaat, sebagaimana diungkapkan dalam 1 Yohanes 3:18, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan tindakan dan dalam kebenaran,” menjadi fondasi pelayanan yang lebih berharga. Melalui tindakan nyata dan kebersamaan, pendeta tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga solusi yang membangun harapan dan kesejahteraan, menekankan pentingnya integritas dalam setiap aspek pelayanan.