Tahun 1970-an ada satu trend dunia tentang Rumah Sakit di dunia ketiga bahwa lebih bagus dilakukan tindakan preventif daripada kuratif. Artinya Rumah Sakit (khususnya di pedesaan) Rumah Sakit itulah yang pergi ke desa-desa. Begilah pengalaman kami. Dengan satu mobil (semua peralatan yang diperlukan masuk di dalamnya) kami pergi ke desa-desa yang waktu itu namanya Rumah Sakit Bethesda Seribu Dolok menyebutnya dengan istilah “turney”. Kami “turney” ke setiap desa satu kali dalam satu bulan. Saat “turney” itulah kami memberikan pengobatan kepada orang-orang sakit di desa itu sekaligus memberikan penjelasan-penjelasan (semacam ceramah) tentang hidup sehat (misalnya tentang gizi, kebersihan, air minum, dll). Untuk menjaga anak-anak agar tetap sehat, Rumah Sakit juga mengadakan penimbangan berat badan anak-anak usia dibawah lima tahun, dan kadang-kadang Rumah Sakit juga memberikan makanan tambahan kepada keluarga-keluarga yang punya anak bayi. Pada jaman itu betul-betul terasa bahwa pengunjung Rumah Sakit sudah jauh berkurang. Tetapi pengalaman kami mengatakan keilmuan di bidang Rumah Sakit saja ternyata tidak mencukupi untuk menangani pekerjaan jenis itu karena fokusnya bukan lagi ke masalah pengobatan tetapi sudah lebih kepada pengembangan masyarakat.
Oleh kegiatan-kegiatan “turney” tersebut mulailah Rumah Sakit merasakan kebutuhan seorang ahli di bidang pengembangan masyarakat. Kami menghubungi DGD (Dewan Gereja Dunia) agar mengirim seorang tenaga ahli dan dikirimlah seorang ahli dari Belanda yang bernama Henk J Cryiete bersama dengan keluarganya (1 istri dan 1 anak). Karena Rumah Sakit itu letaknya di pedalaman, maka mereka (penduduk setempat) amat jarang melihat orang kulit putih seperti keluarga Henk J Cryiete, tetapi rata-rata mereka akhirnya tahu bahwa di komplek rumah sakit itu sekarang sudah ada yang tinggal orang kulit putih.
Ketika anak kedua mereka lahir, istrinya tidak melahirkan di Rumah Sakit tersebut melainkan di Penang – Malaysia. Pulang dari Penang dia sudah bisa membawa bayinya sedikit jalan-jalan. Tibalah hari pekan di Seribu Dolok, dia pun juga telah rindu ke Pekan itu karena sudah agak lama di Penang, maka dia pergi ke pekan itu jalan-jalan dengan membawa bayinya yang kecil. Tentu penampilannya agak menyolok karena hanya dia seorang ibu yang berkulit putih yang juga sedang menggendong seorang bayi. Begitu orang-orang di pekan itu melihat bayi yang sedang digendong ibu itu mereka langsung mendekat dan bilang: “Aduh… Cantiknya anak ini. Kenapa dibawa jalan-jalan tanpa dibungkus” sambil mencubit wajah bayi itu. Ibu Cryitee pun kaget: “Jangan dicubit, jangan disakiti anakku. Apa salahnya? Kenapa disakiti?” belum lagi dia selesai ngomong sudah datang lagi seorang ibu lain (yang agaknya dengan badan dan tangan kotor), tanpa permisi langsung memegang wajah bersih anak itu dan mencubitnya: “Aduh cantiknya… Lucu, putih” sambil ketawa-ketawa. “Ibu!!!, jangan disakiti anakku, kenapa dicubit wajahnya? Apa salah kami?” kata ibu itu. Melihat kejadian itu semakin berdatanganlah banyak ibu-ibu di pekan itu mengerumuni “ibu putih” dan bayinya itu dan semua berdesak-desakan untuk mencubit anak itu. Menjerit-jeritlah Nyonya Cryitee itu sedih sambil menangis berlari pulang ke rumah menggendong bayinya.
Mungkin kejadian itulah yang sering dia diskusikan bersama suaminya di rumah sebelum saya datang berkunjung. Dia (ibu itu) menceritakan detail kejadian di pekan yang “mengerikan” itu. Mendengar itu meledaklah tawa saya, saya sangat gembira dan sama sekali tidak sedih. Saya menjelaskan kebiasaan atau tradisi di kampung-kampung ini: Bahwa bila seorang punya bayi yang baru satu dua minggu, sudah selayaknya dia membawa bayi tersebut ke pekan (dan secara tidak langsung), sekalian menunjukkan bayi itu kepada rekan ibu-ibu di pekan, menyatakan bahwa dia dan anak itu selamat-selamat adanya. Dan di saat itulah juga dia melihat bagaimana kebaikan dari semua teman-temannya. Dia akan melihat (dan sebenarnya sangat mengharapkan) orang-orang akan berdatangan melihat dan mencubit anaknya. Begitulah (dengan mencubit) menurut kebiasaan – cara mereka menyatakan “kedekatannya” sekalian sebagai ucapan selamat dan rasa syukur atas kesehatan ibu dan anak itu.
Adalah suatu kesedihan yang teramat sangat bagi seorang ibu yang membawa bayinya ke pekan seperti itu bila satu orang pun tidak ada yang datang mencubit anaknya. Dia akan sangat sedih menangisi anak dan nasibnya. Dia akan berpikir bahwa anak yang dilahirkannya itu sangat jelek rupa, tidak di kehendaki orang dan tidak membawa rejeki.
Cerita ini menghadirkan gambaran unik tentang perbedaan budaya dan tradisi antara orang-orang dari pedesaan dengan orang-orang dari kota atau luar negeri. Meskipun awalnya terlihat tragis bagi Nyonya Cryitee dan anaknya yang dicubit oleh penduduk desa dengan tangan kotor, peristiwa ini sebenarnya mengandung keindahan tersendiri dalam bentuk salam persaudaraan dan kegembiraan atas kelahiran anak. Tradisi mencubit wajah bayi sebagai ekspresi kesenangan dan rasa syukur atas kelahiran sehat adalah cara bagi masyarakat untuk menyatakan kedekatan dan kebahagiaan bersama. Hal ini mengajarkan kita pentingnya memahami perbedaan budaya, menghargai tradisi setempat, dan melihat kebaikan di balik setiap interaksi manusia. Meskipun terkadang perbedaan budaya bisa membingungkan atau membingungkan pada awalnya, mereka juga bisa menjadi peluang untuk belajar dan merenungkan nilai-nilai yang lebih dalam tentang persaudaraan dan kegembiraan bersama.
Cerita ini juga mengajarkan bahwa di balik perbedaan dan kejutan budaya, kita bisa menemukan hubungan yang kuat antara manusia. Ketika kita memahami asal-usul tradisi dan kepercayaan, kita dapat melihat bahwa ekspresi cinta dan perhatian datang dalam berbagai bentuk. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu membuka pikiran dan hati terhadap keunikan budaya serta tradisi masyarakat lain, dan untuk merayakan keberagaman sebagai sumber kekayaan manusia. Kesimpulan ini memberikan inspirasi bagi pembaca untuk memperluas pandangan mereka tentang dunia, menerima keunikan budaya dengan penuh penghargaan, dan menemukan keindahan di balik setiap perbedaan yang kita temui dalam kehidupan kita.
Kisah tentang Nyonya Cryitee dan pengalamannya di desa Seribu Dolok mencerminkan keindahan dan kekayaan budaya yang ada di masyarakat kita. Meskipun pertemuan awalnya tampak mengerikan bagi Nyonya Cryitee, tindakan mencubit bayi sebagai ungkapan kebahagiaan dan keakraban menunjukkan bahwa cinta dan perhatian bisa terwujud dalam berbagai cara yang berbeda. Cerita ini mengajak kita untuk lebih memahami dan menghargai perbedaan budaya, serta menyadari bahwa di balik setiap tradisi terdapat makna mendalam yang mencerminkan rasa syukur dan persaudaraan. Sebagaimana tertulis dalam Galatia 3:28, “Dalam Kristus tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus.” Melalui pandangan ini, kita diajak untuk merayakan keberagaman dan memperkuat hubungan antarmanusia, serta melihat bahwa setiap tradisi, meski berbeda, adalah cerminan kasih Tuhan yang menghubungkan kita dalam satu keluarga besar.