Setelah sepuluh tahun memasuki masa pensiun, setiap kali bertemu dengan orang, pertanyaan yang selalu muncul adalah, “Jadi, sekarang apa kegiatan Pak Pendeta?” Sebagai seorang pensiunan berusia tujuh puluh tiga tahun, saya sering merasa kesulitan menjawab pertanyaan ini. Banyak pilihan pekerjaan atau kegiatan tersedia, namun dengan kemampuan fisik yang semakin menurun, menentukan apa yang harus dilakukan menjadi sebuah tantangan tersendiri.
Saya mulai memikirkan tentang bagaimana gereja kharismatik menciptakan suasana kebaktian yang riang dan penuh semangat. Dalam pandangan saya, ini adalah salah satu kekurangan dari gereja Lutheran di tanah Batak, yang cenderung resmi dan kaku dalam kebaktiannya. Untuk usia saya yang semakin lanjut ini, saya merasa bahwa memperdalam studi teologi kharismatik dan menerapkannya di gereja kami, GKPS, bisa menjadi langkah yang bermanfaat.
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi teologi di Melbourne, Australia, meskipun sebenarnya saya sudah menyelesaikan S3 dalam teologi Lutheran. Namun, untuk diterima di program studi teologi kharismatik di Melbourne, saya memerlukan nilai PTE (Pearson Test of English) sebesar 42. Saya pun mulai mempersiapkan diri dengan mempelajari semua bahan dan soal PTE dari tiga tahun lalu. Saya bahkan menciptakan rumus atau template untuk menjawab setiap soal, yakin bahwa dengan template tersebut, saya bisa menjawab semua soal dengan benar.
Pengalaman saya di Indonesia menunjukkan bahwa soal ujian biasanya mirip dengan soal-soal sebelumnya. Sangat jarang ditemukan soal baru yang tidak pernah diajukan sebelumnya. Dengan asumsi ini, saya membuat strategi untuk menghafal jawaban soal-soal yang ada, walaupun saya tidak benar-benar memahami materi tersebut. Saya yakin bahwa dengan cara ini, saya akan mendapatkan nilai yang sangat tinggi.
Meskipun anak saya telah memperingatkan saya untuk tidak mempersiapkan ujian dengan cara seperti itu, saya tetap berpegang pada keyakinan bahwa strategi ini adalah yang paling efektif. Namun, saat ujian PTE tiba, realitas tidak sesuai dengan harapan saya. Semua soal yang keluar ternyata baru dan tidak sesuai dengan apa yang telah saya pelajari. Tidak ada satupun soal yang saya hadapi sesuai dengan persiapan saya.
Di sinilah saya menghadapi risiko dari mengandalkan trik dan strategi semata, tanpa memahami materi dengan benar. Pada akhirnya, saya hanya memperoleh nilai 32, jauh dari syarat minimum untuk studi di Melbourne. Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya merasa puas dengan usaha yang telah saya lakukan. Saya telah melakukan yang terbaik menurut versi saya, dan saya menyebut pengalaman ini sebagai “mencapai kegagalan yang sempurna.”
Mencapai kegagalan yang sempurna adalah suatu pengalaman yang menantang dan sering kali mengajarkan lebih banyak daripada keberhasilan itu sendiri. Terkadang, kita terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan hasil yang tinggi dengan cara yang paling mudah, tanpa mempertimbangkan pemahaman yang mendalam. Kegagalan ini bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses dan pendekatan yang kita pilih.
Dalam setiap usaha, apakah itu studi, pekerjaan, atau proyek pribadi, kita sering kali fokus pada hasil akhir. Kita mengabaikan pentingnya pemahaman dan proses belajar yang mendalam, dan lebih memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan. Namun, realitas tidak selalu sesuai dengan rencana kita. Ketika kita mengandalkan strategi yang tidak berbasis pada pemahaman yang baik, kita sering kali menemui kegagalan yang tak terduga.
Pengalaman saya dengan ujian PTE adalah contoh klasik dari bagaimana kita dapat menipu diri sendiri dengan cara yang tidak jujur. Meskipun saya telah berusaha keras untuk menghafal semua jawaban dan membuat “template”, saya tetap tidak dapat menghadapi soal-soal yang baru dan berbeda. Ini mengajarkan kita bahwa proses yang tulus dan pemahaman yang mendalam jauh lebih penting daripada hanya mengejar hasil yang tinggi dengan cara yang tidak autentik.
Setiap kegagalan membawa hikmah yang berharga jika kita mau merenungkannya. Dalam kasus saya, kegagalan dalam ujian PTE mengajarkan saya untuk menghargai proses belajar yang autentik. Saya menyadari bahwa mempersiapkan ujian dengan cara yang tidak jujur hanya akan membawa pada kegagalan yang lebih besar. Saya belajar bahwa keberhasilan yang sebenarnya terletak pada pemahaman yang mendalam dan usaha yang tulus, bukan hanya pada hasil akhir.
Untuk para pembaca yang mungkin menghadapi tantangan serupa, penting untuk diingat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi sebuah kesempatan untuk belajar dan berkembang. Jangan biarkan kegagalan mengecilkan semangat Anda atau membuat Anda merasa tidak mampu. Sebaliknya, gunakan kegagalan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dengan pendekatan yang lebih baik.
Integritas dan kejujuran adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan. Dalam setiap usaha, baik itu dalam studi, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, penting untuk menjaga integritas dan kejujuran. Ketika kita bekerja dengan tekun dan jujur, kita membangun dasar yang kuat untuk keberhasilan yang sejati.
Mencapai kegagalan yang sempurna adalah sebuah perjalanan yang mengajarkan banyak hal tentang usaha, integritas, dan pemahaman. Dalam pengalaman saya, kegagalan dalam ujian PTE mengajarkan pentingnya proses belajar yang autentik dan kejujuran dalam usaha. Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memperbaiki pendekatan kita.
Sebagai seorang yang telah melewati perjalanan panjang dalam hidup, saya menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri. Allah seringkali mengajarkan kita melalui kegagalan, memperlihatkan bahwa kesuksesan sejati terletak pada usaha yang tulus dan integritas yang dijalani dalam setiap proses. Dalam setiap langkah hidup, kita dipanggil untuk tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menghargai perjalanan yang membentuk karakter kita. Seperti yang tertulis dalam Roma 5:3-4, “Kita juga bermegah dalam penderitaan kita, karena kita tahu bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan; dan ketekunan menghasilkan tahan uji; dan tahan uji menghasilkan pengharapan.” Kegagalan yang kita alami, jika diterima dengan hati yang bijaksana, akan menghasilkan kekuatan dan harapan yang lebih besar dalam kehidupan kita yang lebih dekat dengan kehendak-Nya.