Saya senang berkunjung ke rumah orang-orang yang saya kagumi. Suatu hari di desa Sondi Raya, saya menyambangi keluarga Zakeus. Walaupun terlihat sederhana, saya selalu senang melihat mereka karena mereka selalu menyapa saya dengan ceria dan ramah. Mereka menganggap saya seperti saudara, bukan saja seperti seorang pendeta.
Sekali itu, begitu masuk ke rumah mereka, saya langsung dipeluk isterinya sambil menangis dan berkata: “Hiyk, hiyk, hiyk,……….pak Pendeta,……., semua babi kami telah mati oleh karena virus dan yang tinggal hanya gundukan kotorannya dibelakang itu yang aromanya setengah mati. Kami tidak kuat lagi menanggung bau dari kotoran itu. Mungkin kami salah karena kandangnya itu kami buat terlalu dekat dengan rumah tempat kita tinggal.
Yang lebih parah lagi, seperti di akhir minggu kemarin, kami mendapat surat dari Universitas keduanya anak kita ini, bahwa kami harus membayar uang kuliah mereka berdua sejumlah 2 Juta rupiah.” Sambil menangis dengan air mata bercucuran ke atas baju saya dan memeluk saya dengan erat: “Tuhan itu baik pak pendeta, Tuhan itu baik pak pendeta. Anda tahu, tadi pagi seseorang datang, aduuuh pak pendeta dia langsung memohon agar kami menjual gundukan kotoran babi di belakang rumah itu.
Dengan uang sebesar dua juta, ia meminta gundukan tanah tersebut untuk kebutuhan pertaniannya. Meskipun kami terkejut, kami langsunglah sepakat. Aduh pak pendeta, kami sungguh-sungguh terkejut. Kami tidak melihat pengunjung itu lagi hanya sebagai tamu. Kami melihatnya sudah seperti Tuhan Yesus hadir di rumah ini. Aduh pak pendeta, Tuhan sudah hadir di rumah ini. Tuhan itu sungguh baik. Semua itu ternyata adalah jawaban atas doa-doa kami. Bagi kami, kejadian itu bukanlah kebetulan, melainkan Tuhan yang langsung turun tangan untuk menyelesaikan masalah kami.”
Kisah tentang keluarga Zakeus dari desa Sondi Raya mengajarkan kita sebuah pelajaran yang dalam dan membangkitkan rasa syukur. Di balik sederhananya kehidupan mereka, tersembunyi sebuah keajaiban di mana Tuhan hadir secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita membayangkan Tuhan mungkin hanya berada di tempat-tempat suci dan megah, cerita ini mengingatkan kita bahwa kasih-Nya tidak mengenal batas. Dia mengunjungi kita di tempat-tempat yang tak terduga, bahkan di rumah-rumah sederhana di tengah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Dalam kisah ini, kita belajar tentang kekuatan doa dan kepercayaan yang mendalam. Keluarga Zakeus menghadapi tantangan besar: kehilangan babi-babi mereka karena virus dan memikul beban biaya pendidikan anak-anak mereka yang tidak terduga. Namun, mereka tidak kehilangan harapan. Mereka memercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, dan dalam waktu yang tak terduga, Tuhan menjawab doa mereka melalui kedatangan seseorang yang membantu membeli gundukan kotoran babi mereka dengan harga yang cukup untuk membayar uang kuliah anak-anak mereka.
Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, jawaban Tuhan datang dalam bentuk dan waktu yang tidak kita duga. Kasih-Nya melampaui pemikiran dan perencanaan kita sendiri. Keluarga Zakeus mengalami kehadiran Tuhan secara nyata melalui pertolongan dan jawaban atas doa mereka. Mereka menggambarkan pengalaman ini bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai tangan Tuhan yang turun tangan langsung dalam kehidupan mereka.
Bagi setiap orang yang merasa terbebani oleh masalah atau kesulitan, cerita ini mengajarkan kita untuk tidak kehilangan harapan. Bahwa di tengah-tengah kesulitan dan keterbatasan kita, Tuhan hadir untuk menolong dan memberi jalan keluar. Belajar untuk mempercayai-Nya dengan sepenuh hati, bahkan ketika segala sesuatu tampak gelap, adalah kunci untuk mengalami kehadiran-Nya yang nyata dalam kehidupan kita.
Lebih dari sekadar sebuah cerita inspiratif, kisah keluarga Zakeus membangun iman dan keteguhan hati kita. Mereka mengajarkan kita untuk melihat bahwa Tuhan tidak hanya bekerja di tempat-tempat yang gemerlap dan terkenal, tetapi juga di tengah-tengah kehidupan sehari-hari yang sederhana. Dia mengasihi dan memperhatikan setiap detail dari kehidupan kita. Ketika kita belajar untuk mengandalkan-Nya dalam segala hal, kita akan merasakan keajaiban-Nya yang tak terduga.
Mungkin kita semua pernah merasa seperti keluarga Zakeus, menghadapi kesulitan yang tampaknya tak teratasi. Namun, cerita ini mengajarkan kita untuk tetap berserah kepada Tuhan, karena pada saat yang tepat dan dengan cara yang tak terduga, Dia akan mengubah segala sesuatu untuk kebaikan kita. Itulah keajaiban iman — di mana kita mempercayai bahwa setiap situasi sulit adalah peluang bagi Tuhan untuk bertindak.
Akhirnya, cerita ini merangsang kita untuk mengenali kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk selalu bersyukur atas segala berkat-Nya. Melalui kasih-Nya yang tak terbatas, Dia mengubahkan kisah-kisah kita menjadi cerita keajaiban yang memuliakan-Nya. Bersama keluarga Zakeus, mari kita belajar untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan hadirat Tuhan dalam setiap langkah kita.
Kisah keluarga Zakeus di desa Sondi Raya mengingatkan kita akan kehadiran Tuhan yang nyata dalam setiap aspek kehidupan, terutama di saat-saat sulit. Meskipun mereka menghadapi kehilangan dan beban berat, iman dan harapan mereka tidak pernah padam. Keajaiban terjadi ketika Tuhan mengutus seseorang untuk menjawab doa mereka dengan cara yang tidak terduga, membuktikan bahwa Tuhan selalu hadir di tengah kesulitan. Seperti yang tertulis dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Kisah ini mengajak kita untuk tetap bersyukur dan percaya bahwa setiap tantangan adalah kesempatan bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya, serta untuk mengenali kehadiran-Nya dalam setiap momen kehidupan kita.