Namanya Lambok. Orangnya sederhana dan bersahaja. Tidak banyak omong, dia lebih banyak membicarakan hal-hal penting saja. Orangnya menarik dan baik. Di masa mudanya sampai selesai perguruan tinggi dia tinggal bersama saya sehingga saya pun merasa dia adalah anak saya. Sesudah dia selesai perguruan tinggi, dia mendapat pekerjaan di sebuah kota besar. Walaupun dia tinggal agak jauh tetapi karena kedekatan tadi, saya terus memonitor dan mengikuti perkembangannya. Dia menikah dengan seorang gadis di kota tersebut. Selaku orang batak pastilah dia mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk pernikahannya itu. Memang dia bekerja sebagai pegawai negeri tetapi sudah pasti gajinya tidak banyak. Memang ada pekerjaannya sebagai pekerjaan sampingan tetapi saya kurang tahu jenis pekerjaan apa itu. Tidak lama setelah pernikahannya itu, tiba-tiba saya mendengar berita bahwa dia telah baru saja membeli sebuah rumah besar dan mewah dan sebuah mobil mewah. Saya kaget gembira. Saya ingin sekali segera bertemu dengan dia dan mau tahu jalan apa yang dia tempuh, proyek apa yang dia kerjakan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat.
Betullah saya pergi menemuinya. Saya lihatlah rumah bagus dan mobil baru itu terparkir di depan rumahnya. Saya panggil dia : “Lambok!, sini dulu. Hebat kali kau, rumah yang luar biasa bagus, mobil mewah lagi, duduk dulu kau. Ceritakan dulu ke aku bagaimana kau mendapatkan ini semua. Apa proyekmu sekarang? Aku kagum melihatmu. Tahun depan gak tahu lagi seberapa banyak uang kau dapat. Tenanglah dulu, ceritalah samaku.”
“Iya pak, baiklah saya ceritakan sekarang. Tahun lalu saya memang mengerjakan sebuah proyek pembangunan di lingkungan ini. Saya mengerjakannya biasa-biasa saja tetapi entah kenapa apa yang kulakukan terus menghasilkan uang. Setiap apapun yang kulakukan berhubungan dengan proyek itu, selalu mendapatkan keuntungan. Semakin besar kubuat usaha, semakin besar keuntungan yang kudapat. Begitulah terus sehingga aku sendiri pun heran kenapa begitu mudah aku mendapatkan uang sekarang padahal selama ini uang untuk membeli sebungkus rokok pun sulit. Maka tahun ini pak, berpedoman dari pengalaman tahun lalu saya akan berusaha untuk bekerja dua kali lipat lebih serius, modal pun kutambah dua sampai tiga kali lipat. Keseriusanku bekerja juga kutambah dua sampai tiga kali lipat. Pagi jam 6 saya sudah berangkat kerja dan pulang sampai larut malam. Begitulah kulakukan selama satu tahun ini. Tapi bapak tahu apa yang terjadi? Apa pun yang kulakukan tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada hanya merugi saja. Begitulah terus sepanjang tahun ini.”
“Tidak ada satu hal pun yang berjalan sesuai rencana, semuanya berubah. Selalu ada saja masalah atau hambatan. Dari segi logika dan cara berpikir yang bagus, dengan meningkatkan jumlah modal, memperbanyak waktu dan perhatian yang saya berikan, keseriusan bekerja, kurasa tidak ada lagi yang tidak kulakukan supaya sukses pekerjaan ini pikirku. Ternyata tidak terjadi seperti itu. Inilah yang saya pikirkan sekarang. Untuk suatu keberhasilan ternyata tidak seluruhnya ada di tangan kita. Kita sudah upayakan segala-galanya secara maksimal, modal, waktu, tenaga, dan perhatian yang lebih dari cukup tetapi disana-sini selalu saja ada hambatan atau masalah. Untuk menentukan suatu keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kita saja tetapi ada “faktor x”. Saya tidak tahu barangkali apakah “faktor x” inilah yang disebut dengan Tuhan. Tetapi itulah kenyataan yang saya alami.
Dalam kisah Lambok, kita menemukan sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan dan bagaimana kita memaknai kesuksesan serta kegagalan. Lambok, seorang pria yang sederhana dan bersahaja, memberikan kita pelajaran berharga melalui pengalamannya. Selama bertahun-tahun, dia telah mengerahkan semua usahanya dalam berbagai proyek dengan harapan bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang memuaskan. Pada awalnya, usaha dan modal yang dia investasikan dalam sebuah proyek tampaknya membuahkan hasil yang luar biasa. Namun, ketika ia menggandakan segala sesuatunya dan berusaha lebih keras lagi, hasil yang diharapkan malah tidak kunjung datang. Kesulitan dan kegagalan yang dialaminya mengajarkan sebuah pelajaran penting yang tidak selalu tampak jelas dalam upaya kita sehari-hari.
Dalam pandangan Lambok, kegagalan bukan hanya hasil dari kurangnya usaha atau perencanaan yang tidak matang. Sebaliknya, ia menyadari adanya “faktor x” yang memainkan peran krusial dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah usaha. Faktor ini, yang oleh Lambok diasosiasikan dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa ada dimensi dalam kehidupan yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Meskipun semua persiapan, perencanaan, dan usaha telah dilakukan dengan maksimal, hasil akhir tetap berada di luar kendali kita. Ini adalah pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor yang tampak di permukaan, tetapi juga oleh elemen-elemen yang lebih besar dan sering kali tidak tampak, yang mungkin kita sebut sebagai kehendak Tuhan.
Penting untuk diingat bahwa usaha yang maksimal tetap merupakan aspek krusial dari pencapaian, tetapi keberhasilan akhir sering kali melibatkan sesuatu yang lebih dari sekadar kerja keras. Dalam hal ini, Lambok mengajarkan kita tentang pentingnya menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan atau diprediksi. Dalam menghadapi kegagalan, kita diajak untuk bersikap lapang dada dan bersyukur, karena mungkin ada alasan yang lebih besar di balik setiap hasil yang kita terima. Ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kita diajak untuk merenung dan mencari makna yang lebih dalam, bukannya hanya berfokus pada hasil yang tidak sesuai harapan.
Penerimaan terhadap kenyataan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang arti sukses dan kegagalan dalam hidup. Dalam setiap usaha, meskipun kita telah memberikan segala yang terbaik, hasilnya mungkin tidak selalu seperti yang kita harapkan. Dengan demikian, pelajaran yang kita ambil dari cerita Lambok adalah tentang keseimbangan antara usaha manusia dan pengakuan akan kekuatan yang lebih tinggi. Kita diajak untuk berusaha dengan segenap kemampuan kita, tetapi juga untuk menyadari bahwa ada dimensi kehidupan yang melampaui pemahaman dan kendali kita. Pada akhirnya, ini adalah ajakan untuk menggabungkan kerja keras dengan sikap tawakal dan penerimaan, serta untuk selalu bersyukur atas segala sesuatu yang kita terima dalam hidup, baik itu hasil yang sesuai harapan atau yang tidak sesuai.
Dalam hidup ini, sering kali kita merasa bahwa kesuksesan hanya bergantung pada usaha dan perencanaan kita sendiri, seperti yang dialami oleh Lambok. Namun, pengalamannya mengingatkan kita bahwa ada faktor yang lebih besar dari yang dapat kita kontrol, yaitu Tuhan yang memegang kendali atas segala hal. Meskipun kita sudah berusaha semaksimal mungkin, hasil akhir tetaplah berada dalam tangan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam
Amsal 16:9, “Hati manusia memikirkan halnya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Ini mengajarkan kita untuk bekerja keras, tetapi juga untuk menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Setiap kegagalan dan keberhasilan adalah bagian dari rencana-Nya yang indah, dan dengan demikian, kita diajak untuk selalu bersyukur dan percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk hidup kita.