Dulu, aku pernah sekali pulang ke kampung. Tiba aku di kampung ternyata saya tidak jumpa siapa-siapa di rumah karena mereka semua lagi pergi ke ladang. Dekat rumah kami ada juga rumah inang tongah (tante). Kulihat rumah tante itu sedang terbuka dan saya pergi ke sana. Tante ini adalah adik kandung dari ibu saya. Dia adalah nomor sebelas dari dua belas bersaudara. Dia adalah seorang janda, orangnya kecil, cantik tetapi sekolahnya hanya lulus SD saja. Tetapi walaupun demikian (dalam ukuran kampung-kampung), dia adalah seorang yang tergolong orang kaya raya. Karena disamping dia adalah seorang janda tetapi dia mampu menyekolahkan semua anak-anaknya (7 orang) ke tingkat perguruan tinggi. Walaupun dia hanya sendiri dia mempunyai ladang yang luas, ternak yang banyak, rumah besar, dan di belakang rumahnya ada lagi satu buah bangunan besar yang memiliki banyak kamar-kamar yang seharusnya bisa dibuat menjadi rumah penginapan (semacam hotel), tetapi sampai sekarang kelihatannya masih dibiarkan kosong begitu saja.
Kesanalah aku pergi. Tante itu jumpaku lagi duduk-duduk di teras sedang mengiris-iris jahe. “Hallo tante”, saya bilang sambil saya duduk disampingnya. Sebenarnya sudah lama saya berniat untuk menanyakan “kunci” atau rahasia mengapa dia bisa se-kaya itu, apa kuncinya dan cara-caranya. Setelah kami selesai membicarakan hal-hal “tetek bengek” saya mulai masuk kepada percakapan resmi : “Tante, aku minta maaf. Tolong jangan sakit hati. Tetapi dari dulu ini sudah kurencanakan. Aku mau bertanya sesuatu yang penting sama tante dan saya harap inilah warisan tante kepada kami anak-anakmu semua melalui saya. Tolonglah dijawab dengan jujur, itulah permintaan saya. Aku mau tanya, sebenarnya bagaimana itu bisa, bagaimana tante bisa sekaya ini di kampung ini? Sekali lagi aku minta maaf, tolong dijawab dengan jujur karena aku sangat perlu tahu itu”.
“Begini ya. Saya tidak mau mengajari kau tentang ini. Mungkin kau jauh lebih pandai dari aku karena kau sudah di perguruan tinggi. Tetapi apa yang saya lakukan, itulah yang akan kuberitahu. Kita di negera berkembang ini harus memiliki minimal 7 (tujuh) saluran pemasukan. Kutanyaklah dulu kau, kau ada berapa sumber pemasukanmu? Darimana saja kau dapat uang masuk?” Kujawab : “Satulah tante. Dari gajiku sebagai seorang Pendeta. Itulah…”. “Ya, pantaslah kamu miskin. Kau hanya punya satu saluran pemasukan. Kita, bagaimanapun juga, di negara kita sebagai negara berkembang (masih di dunia ketiga) kita harus mengupayakan minimal 7 (tujuh) saluran pemasukan.” “Emangnya tante ada 7 saluran pemasukannya? Apa-apa sajalah itu?”.
“Lihat lah ya : Di kampung ini saya kan berladang juga nak. Hasil dari ladang itu, itulah saluran pemasukanku nomor 1 (satu). Setiap hari Senin saya juga ke pekan Haranggaol jualan beras, dan setiap hari Jumat saya ke pekan Tiga Runggu dan setiap hari Sabtu saya ke pekan Tiga Raya, semua itu saya satukan sebagai hasil dari pekan-pekan. Itulah saluran pemasukanku nomor 2 (dua). Rumah kita ini kan kedai (kedai kelontong). Hasilnya inilah pemasukanku nomor 3 (tiga). Itu di Nagori Tongah kan ada banyak pembuat ulos, semua ulos-ulos mereka saya beli dan saya pajang di rumah ini. Kalau ada acara-acara pesta orang selalu membeli ulos ke saya. Itulah pemasukan saya nomor 4 (empat). Pamanmu kan dulu guru, uang pensiunnya itu kan ada, itulah pemasukanku nomor 5 (lima). Kalau misalnya uangku saya rasa sudah cukup saya selalu beli babi atau kerbau betina dan saya kasihkanlah itu kepada orang-orang untuk dipelihara dan hasilnya nanti sama dia / pemelihara itu dua pertiga dan sama saya satu pertiga. Seperti sekarang ini babi dan kerbau-kerbau saya sudah agak lumayan banyak dan yang memeliharanya adalah penduduk-penduduk sekitar kampung kita ini. Semua mereka saya kenal dengan baik jadi tidak mungkin dilarikan. Itulah saluran pemasukan saya nomor 6 (enam).” “Lantas, nomor 7 (tujuh)?” “Ya inilah jahe yang kuiris-iris ini. Kalau jahe itu dari ladang langsung dijual harganya kan murah, itulah saya beli. Sesudah saya iris-iris begini dan dijemur sampai kering harganya sudah tinggi. Inilah pemasukan nomor 7 (tujuh). Itulah…”
“Jadi, kalau kau ingin memiliki sedikit uang atau memperbaiki nasib, upayakanlah minimal / paling sedikit 7 (tujuh) saluran pemasukanmu. Jangan pernah berpikir “ah berapalah itu. Sedikit sekali”. Jangan pernah berpikir begitu. Jangan pernah kau berpikir berapa, yang penting ada. Nanti sedikit-sedikit itu semua terkumpul akan menjadi lumayan banyak dan upayakanlah tiap saluran pemasukan adalah saluran pemasukan yang tidak sekali / semusim saja tetapi pemasukan yang berkesinambungan. Kalau bisa usahakan tambah lama tambah besar. Seperti babi atau kerbau itu misalnya, setiap ada anaknya itu adalah tanggung jawabku untuk menukarkannya menjadi betina karena bulan keenam atau bulan kedelapan nanti, babi-babi atau kerbau-kerbau itu sudah beranak lagi. Dan kalau anaknya jantan, kujual dan langsung kubeli betina sebagai gantinya. Nanti delapan bulan lagi kan beranak juga itu. Begitulah uang masuk itu tambah lama tambah banyak. Itulah misalnya hahahahahahahaha…..”
Teman-teman, para pembaca yang budiman, kita coba dulu refleksikan nasihat dari tanteku ini: Di tengah kehidupan yang serba terbatas seperti di kampungku ini, kita bisa belajar banyak dari dia. Seperti ketika aku pulang kampung itu aku sangat senang bertemu beliau, dia hanya seorang janda dan hanya lulusan SD, tapi ternyata dia punya banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ceritanya sangat menginspirasi dan aku merasa perlu membagikannya, terutama bagi kita yang hidup di negara berkembang seperti Indonesia.
Tante ini, meskipun hanya berpendidikan SD, punya banyak pelajaran berharga tentang bagaimana “manjoji” / mengelola berbagai hal seperti menciptakan beberapa sumber pemasukan untuk bisa meningkatkan taraf hidup. Dia sangat menyarankan agar kita punya minimal tujuh saluran pemasukan. Ini sangat mengesankan. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, kita harus punya beberapa sumber pemasukan agar keuangan kita lebih meningkat. Tante ini mengatakan, setiap sumber pemasukan, meskipun kecil, kalau dikelola dengan baik, bisa bikin keuangan kita lebih meningkat dalam jangka panjang.
Dia juga sangat pintar memanfaatkan apa yang ada di sekelilingnya. Dari ladangnya, pekan-pekan lokal di mana dia jualan beras, sampai kedai kelontong di rumah, semuanya dimanfaatkan dengan maksimal. Ini memberikan pelajaran bahwa kita harus peka dengan potensi lokal, seperti hasil pertanian atau kerajinan tangan, buat meningkatkan pendapatan kita,
Tante ini juga mengajarkan pentingnya investasi berkelanjutan. Dia bukan cuma beli ternak, tapi juga mengelolanya dengan bijak. Misalnya, dia beli babi atau kerbau betina untuk diberikan ke orang-orang supaya mereka bisa memeliharanya. Dengan cara ini, dia bikin sistem yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Jadi, investasinya tidak cuma menguntungkan dia, tapi juga orang di sekelilingnya.
Selain itu, alih-alih menjual jahe mentah dari ladang dengan harga murah, dia justru mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai dengan cara mengiris-irisnya dan dikeringkan. Ini membuktikan bahwa memproses dan menambah nilai produk bisa meningkatkan pendapatan secara signifikan. Jadi, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dari produk yang kita punya.
Konsistensi dan perencanaan yang matang juga jadi kunci sukses. Dia selalu punya jadwal rutin ke pasar lokal dan memastikan usaha kedai kelontongnya tetap berjalan dengan baik. Konsistensi dalam menjalankan usaha dan perencanaan yang matang memang penting sekali membuat semua saluran pemasukan tetap produktif.
Dalam kehidupan ini, kita sering dihadapkan pada keterbatasan dan tantangan, namun seperti yang ditunjukkan oleh tante dalam cerita ini, Tuhan memberikan kita hikmat untuk mengelola apa yang ada dengan bijak. Setiap usaha yang kita lakukan, meskipun kecil atau sederhana, bisa menjadi saluran berkat yang tidak hanya membawa kemakmuran bagi diri kita, tetapi juga bagi orang di sekitar kita. Tuhan mengajarkan kita untuk bekerja dengan tekun dan mempercayakan hasilnya kepada-Nya. Sebagaimana tertulis dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ketekunan, integritas, dan kepercayaan kepada Tuhan adalah kunci untuk meraih berkat yang berlimpah dalam hidup kita.