Di tengah kehidupan berjemaat di Gereja, setiap anggota jemaat tentunya dihadapkan pada berbagai tantangan dan dinamika yang seiring dengan perjalanan waktu, bertumbuh dan berubah. Sebagai bagian dari komunitas ini, kita seringkali mendapati berbagai persoalan yang datang silih berganti. Terkadang perbedaan pendapat atau cara pandang dalam menyikapi suatu masalah muncul begitu cepat. Salah satu kelompok yang sering terlibat aktif dalam memberikan pandangan, kritik, dan masukan adalah para pendeta. Mereka, yang dilatih untuk melayani dan membimbing jemaat, merasa terdorong untuk terlibat dan memberikan arah bagi gereja tercinta. Semua itu dilakukan dengan semangat yang tulus untuk kebaikan bersama, untuk memajukan gereja, dan untuk memastikan setiap langkah yang diambil adalah sesuai dengan kehendak Allah.
Namun, di balik semangat tersebut, ada satu hal yang sering kali membuat sebagian jemaat bertanya-tanya. Mengapa tidak semua pendeta merespons dengan cara yang sama terhadap masalah yang ada? Mengapa sebagian pendeta, yang tampaknya memiliki lebih banyak pengalaman atau bahkan pendidikan yang lebih tinggi, memilih untuk tidak segera mengungkapkan pendapat mereka? Bukankah pendeta seharusnya memberi jawaban atau memberikan kritik agar gereja dapat maju? Beberapa orang merasa bingung dan bahkan bertanya-tanya mengapa sikap diam ini bisa muncul, apalagi dalam situasi yang tampaknya mendesak untuk mendapat perhatian.
Dalam suatu percakapan yang berlangsung di ruang pertemuan gereja, seorang anggota jemaat bernama Samuel mengajukan pertanyaan kepada seorang pendeta senior, yaitu Pendeta Timotius, yang dikenal bijaksana dan sangat berpengalaman dalam menjalani pelayanan. “Pendeta Timotius, saya perhatikan bahwa dalam banyak kesempatan, Bapak sering kali memilih untuk tidak langsung memberikan komentar atau tanggapan terhadap masalah yang kami hadapi. Mengapa begitu? Bukankah kita sebagai pendeta seharusnya memberikan pendapat atau solusi?”
Pendeta Timotius tersenyum lembut dan menatap Samuel dengan tatapan penuh pengertian. “Samuel, itu adalah pertanyaan yang baik. Saya ingin menjelaskan bahwa terkadang, dalam kehidupan berjemaat, kita tidak selalu harus segera memberikan respon atau pendapat atas setiap masalah yang muncul. Dalam pendidikan yang saya terima, baik itu di seminari maupun melalui pengalaman pribadi, saya belajar bahwa tidak semua hal memerlukan respons yang cepat atau terburu-buru.”
Samuel mengerutkan kening, sedikit bingung. “Tapi pendeta, bukankah kita harus bertindak cepat untuk menyelesaikan masalah? Terkadang kita butuh jawaban segera!”
“Ya, saya mengerti perasaanmu,” jawab Pendeta Timotius. “Namun, ada kebijaksanaan yang lebih dalam di balik memilih untuk diam dalam waktu tertentu. Ketika seseorang telah menempuh pendidikan yang lebih tinggi, seperti studi S2 atau S3, dia sering kali dilatih untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kami diajarkan untuk merenungkan setiap masalah dengan cermat, untuk mencari pemahaman yang lebih dalam sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ini bukan berarti kami tidak peduli, tetapi kami sedang mencari hikmat untuk memberikan jawaban yang terbaik, bukan hanya yang terburu-buru.”
“Betul,” jawab Pendeta Timotius dengan penuh keyakinan. “Diam itu bukan ketidakpedulian. Kadang-kadang, diam itu adalah bentuk dari kedewasaan rohani dan intelektual. Kami ingin memastikan bahwa setiap kata yang kami ucapkan dan setiap langkah yang kami ambil memiliki dasar yang kuat. Jika kita memberi respons terlalu cepat tanpa merenung, bisa jadi kita akan kehilangan esensi dari masalah tersebut atau bahkan memberikan jawaban yang kurang bijaksana.”
Di tengah percakapan mereka, seorang jemaat lain yang mendengar percakapan itu, yaitu Maria, bergabung dan menambahkan, “Mungkin yang pendeta maksudkan adalah bahwa kita hidup di dunia yang serba cepat, yang sering kali mengutamakan respons instan. Tapi apakah kita pernah mempertanyakan apakah itu benar-benar solusi terbaik? Saya pernah melihat bagaimana Bapak Pendeta Timotius menunggu waktu yang tepat sebelum memberikan arahan kepada kami. Mungkin itu lebih berharga daripada memberikan jawaban langsung yang terburu-buru.”
Pendeta Timotius mengangguk dengan penuh rasa terima kasih atas pengertian Maria. “Ya, Maria benar. Di dunia yang penuh dengan kebisingan ini, kita sering kali merasa harus segera berbicara. Namun, Tuhan mengajarkan kita untuk bijaksana, untuk tidak terburu-buru dalam memberi respons. Merenung dan menunggu waktu yang tepat sering kali menghasilkan jawaban yang lebih tepat sasaran. Seperti yang tertulis dalam Amsal 16:16, ‘Jika ada seorang yang tidak tampak berbicara, itu karena dia mencari hikmat, dan hikmat itu lebih berharga daripada permata.'”
Percakapan itu membuat Samuel semakin merenung. Ia mulai mengerti bahwa sikap diam yang sering kali diambil oleh pendeta-pendeta yang lebih berpendidikan dan berpengalaman adalah sebuah bentuk kebijaksanaan yang berakar pada kedalaman perenungan dan pemahaman. Ketika seorang pendeta memilih untuk tidak segera berbicara, mereka sedang mencari hikmat yang lebih tinggi, yang tidak hanya didasarkan pada emosi sesaat atau pendapat pribadi, tetapi pada pemikiran yang matang dan pertimbangan yang mendalam.
“Jadi, Bapak ingin kita memahami bahwa ketika pendeta diam, mereka sedang mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang lebih bijaksana dan lebih bermakna?” tanya Samuel, kali ini dengan lebih banyak pemahaman.
Pendeta Timotius mengangguk, “Betul sekali, Samuel. Dalam pelayanan, kami diajarkan untuk lebih banyak mendengarkan, lebih banyak merenung, dan lebih sedikit berbicara. Kebijaksanaan datang dari Tuhan, dan kami hanya bisa menjadi saluran-Nya untuk memberikan pemahaman yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kami percaya bahwa Tuhan akan memberikan waktu yang tepat untuk memberikan arahan dan solusi yang tepat.”
Di akhir percakapan itu, semua yang hadir merasakan kedamaian yang mendalam. Mereka mulai menyadari bahwa dalam dunia yang terburu-buru ini, kebijaksanaan sejati membutuhkan waktu dan refleksi. Diam bukan berarti tidak peduli, tetapi sebagai bentuk kedewasaan yang memungkinkan seseorang untuk merenungkan segala sesuatu dengan hati yang terbuka dan bijaksana.
Dalam tubuh Kristus yang hidup, kita semua dipanggil untuk menghargai dan memahami cara Tuhan bekerja dalam hidup kita masing-masing. Setiap individu berjalan dalam jejak yang unik, dan dalam setiap langkah itu, kita melihat bagaimana Tuhan mengukir cerita-Nya dalam kehidupan kita. Kita adalah bagian dari suatu komunitas yang beragam, di mana setiap perbedaan pandangan, cara respons, dan sikap bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkaya kita semua. Itulah keindahan tubuh Kristus, tempat di mana beragam suara berbicara, berpadu, dan saling melengkapi dalam harmoni yang lebih besar. Dalam perbedaan, kita menemukan satu tujuan: untuk menyatu dalam kehendak Tuhan yang lebih tinggi.
Namun, dalam dunia yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak dalam kegelisahan. Kita ingin jawaban sekarang, solusi instan untuk setiap persoalan. Kita lupa bahwa dalam setiap masalah, Tuhan mengajarkan kita bukan hanya untuk bertindak, tetapi untuk merenung. Proses menunggu, kesabaran dalam menghadapi ketidakpastian, adalah bagian dari pembelajaran yang sering kita hindari. Tetapi justru dalam ketidaktahuan itu, Tuhan mengasah kita untuk lebih bijaksana, untuk mengerti bahwa waktu-Nya adalah waktu yang sempurna. Di tengah keramaian dunia ini, kita dipanggil untuk menjadi pendengar yang setia, bukan hanya berbicara tanpa perhitungan, tetapi memberi ruang bagi hikmat untuk tumbuh dalam hati kita.
Diam bukan berarti tidak peduli. Diam adalah ruang di mana kebijaksanaan Tuhan bertumbuh. Dalam kebisuan itu, Tuhan berbicara dalam kedalaman, mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban yang datang dari emosi atau impuls, tetapi untuk memberi ruang bagi pikiran dan hati untuk menyatu dengan kehendak-Nya. Kebijaksanaan bukanlah respons yang datang dengan cepat, tetapi keputusan yang lahir dari doa dan perenungan, dari mendengarkan lebih dalam dan melihat jauh melampaui permukaan masalah. Ini adalah perjalanan iman, di mana kita bukan hanya menunggu dengan pasif, tetapi dengan harapan yang penuh, menunggu waktu Tuhan yang sempurna untuk mengungkapkan hikmat-Nya.
Seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 17:28, “Karena sesungguhnya, di dalam Dia, kita hidup, kita bergerak, dan kita ada.” Di dalam Tuhan, kita menemukan hidup yang sejati, bukan hanya dalam setiap kata yang kita ucapkan, tetapi dalam setiap napas yang kita ambil. Setiap detik hidup ini, setiap keputusan yang kita buat, ada di tangan-Nya. Di dalam-Nya, kita menemukan arah, kita menemukan hikmat, kita menemukan kehidupan yang penuh makna. Bahkan dalam kebisuan kita, Tuhan berbicara dengan suara yang lebih lembut, mengingatkan kita bahwa hikmat-Nya jauh melampaui segala pemahaman manusia.
Kehidupan berjemaat adalah kehidupan yang saling mendukung, di mana setiap orang dipanggil untuk menghargai cara Tuhan bekerja dalam hidup satu sama lain. Tidak ada dua perjalanan yang persis sama, dan itulah keindahan dari hidup dalam tubuh Kristus. Di sana, kita belajar untuk bersabar, untuk mengasihi, dan untuk berjalan bersama-sama, menantikan waktu Tuhan yang sempurna untuk setiap jawaban.