Saya masih merenung panjang tentang hal ini, dan pikiran saya terus berputar dalam kebingungannya. Rasa ragu itu menggelayuti, apakah estimasi yang saya buat selama ini benar atau salah. Namun, seiring waktu, saya merasa ada satu kesan yang menguat setiap kali saya berpikir tentang GKPS dan masyarakat Simalungun, khususnya anggota-anggota gereja di sana. Kesan itu adalah kenyataan yang sepertinya tidak bisa saya pungkiri: Orang-orang Simalungun, khususnya mereka yang berada di GKPS, hanya menginginkan pemimpin yang terlihat sopan, yang selalu menunjukkan rasa hormat, tanpa terkecuali. Mereka menginginkan pemimpin yang tidak pernah berbicara gamblang, yang selalu menjaga sikap “tunduk” dan tidak mau berteriak atau mengungkapkan pendapat dengan vokal. Saya sering bertanya-tanya, mengapa demikian? Mengapa mereka lebih memilih pemimpin yang seolah-olah tidak punya pendapat yang jelas?
Kemudian, saya mulai menyadari bahwa ini mungkin terkait dengan budaya kita yang telah lama terbentuk. Dalam budaya kita, sikap diam seolah-olah menjadi lambang kesopanan dan kehormatan. Bahkan, di dalam gereja, kita diajarkan bahwa berbicara dengan kritis atau berani mengungkapkan pendapat yang berbeda itu adalah sikap yang tidak sopan, yang harus dihindari. Sepertinya, berpikir kritis, apalagi berbicara secara terbuka mengenai masalah yang ada, dianggap sebagai bentuk ketidak-beradaban. Ini adalah budaya yang telah mengakar dalam masyarakat kita, dan terutama di lingkungan gereja. Dari sini, saya mulai menarik kesimpulan bahwa, dalam dua puluh tahun terakhir, banyak masalah yang terjadi di GKPS sebenarnya berasal dari masalah mentalitas semacam ini.
Dengan mentalitas seperti itu, saya mendapatkan kesan bahwa dalam Sinode Bolon terakhir misalnya, warga GKPS seolah sudah memastikan bahwa mereka tidak akan memilih atau menerima pemimpin yang tidak sejalan dengan kultur ini. Mereka menginginkan pemimpin yang akan menyesuaikan diri dengan cara berpikir mereka, yang menjaga sikap tenang, diam, dan senantiasa menghindari sikap kritis agar bisa diterima oleh masyarakat Simalungun. Para pemimpin yang ada harus bisa mempertahankan sikap “kalem” agar mereka tidak dipandang buruk oleh jemaat atau masyarakat luas. Mereka harus bisa menjaga citra mereka agar terlihat tidak memiliki konflik pendapat dengan siapa pun, karena dalam budaya ini, konflik atau debat terbuka dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, bahkan jika itu terjadi di dalam rumah Tuhan sekalipun.
Yang terjadi kemudian, mentalitas ini semakin menguat dan meresap dalam diri para pemimpin GKPS. Para pemimpin tersebut mulai terbiasa dengan sikap diam, yang pada akhirnya menginternalisasi budaya ini ke dalam diri mereka. Mereka menjadi tidak mampu berpikir kritis, tidak mampu menghadapi persoalan dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan. Mereka mulai merasa nyaman dalam keadaan yang stagnan, mengangguk-angguk tanpa memberikan pemikiran yang mendalam. Sikap kritis dan analitis yang seharusnya menjadi bagian dari pemimpin yang bijaksana, perlahan-lahan hilang. Jika pemimpin sudah memiliki mentalitas seperti ini, bagaimana dengan bawahannya? Akhirnya, seluruh organisasi menjadi terperangkap dalam sikap diam ini. Semua orang seolah berlomba untuk tidak berbicara, berlomba untuk tidak menunjukkan pendapat yang berbeda. Semua takut untuk mengungkapkan sesuatu yang bisa menimbulkan perdebatan.
Kondisi ini membawa dampak yang cukup besar dalam banyak aspek kehidupan gereja. Salah satu yang paling mencolok adalah masalah kesejahteraan para pendeta. Gaji mereka, yang seharusnya mencerminkan penghargaan terhadap pekerjaan mereka, justru berada jauh di bawah standar upah minimum regional (UMR). Mungkin ini tampak seperti masalah yang sepele, tetapi sesungguhnya, ini adalah cerminan dari bagaimana gereja kita kurang peduli terhadap nasib dan kehidupan para pelayan Tuhan. Begitu pula dengan tunjangan para pegawai Rumah Sakit Bethesda di Seribu Dolok yang tidak pernah tuntas. Ini adalah persoalan besar, namun tidak ada satupun yang berani mempermasalahkannya. Tidak ada yang berani berbicara tentang ketidakberesan ini. Bahkan, Pelpem GKPS yang akhirnya tutup pun tidak ada yang merasa perlu untuk mempersoalkannya. Ketika rumah sakit Bethesda juga harus tutup, nasibnya sama, tak ada yang memperhatikan. Proyek rumah sakit di Pematang Raya yang telah direncanakan pun nasibnya tidak jauh berbeda, terlantar begitu saja. Bahkan banyak aset-aset GKPS yang selama ini diharapkan bisa digunakan untuk kemajuan gereja, malah terlantar tanpa ada yang merawatnya.
Mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah ini hanya kebetulan belaka? Saya rasa tidak. Semua ini merupakan akibat dari mentalitas yang berkembang selama dua puluh tahun terakhir di GKPS, sebuah mentalitas yang lebih memilih diam, yang enggan berbicara, dan yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Mentalitas ini, yang terkesan tidak peduli dan tidak ingin terlibat dalam dinamika yang ada, membawa kita pada sebuah kenyataan yang memprihatinkan. Mentalitas ini tidak lagi memberikan ruang untuk perkembangan, untuk perubahan yang positif, dan untuk berpikir secara kritis. Itu sebabnya, kita sebagai gereja, dalam dua puluh tahun terakhir, seolah menjadi gereja yang “agak bodoh”, bahkan “agak dungu”. Itu adalah kenyataan yang harus kita akui, meski rasanya sangat pahit.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya? Apakah kita akan terus terjebak dalam kebisuan ini, ataukah kita harus mulai merubah cara kita berpikir dan bersikap? Mungkin tidak mudah untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama mengakar, tetapi saya percaya jika kita mau mulai berani berpikir dan berbicara dengan lantang, kita bisa keluar dari keterpurukan ini. Kita harus berhenti membiarkan diri kita terjebak dalam sikap diam yang tidak membawa kita ke mana-mana. Jika kita ingin menjadi gereja yang lebih baik, yang relevan dengan perkembangan zaman, kita harus mengubah mentalitas ini. Kita harus mulai belajar untuk berdiskusi, untuk berbicara tentang masalah-masalah yang ada, dan untuk tidak takut mengungkapkan pendapat yang mungkin berbeda.
Mungkin perubahan itu tidak bisa terjadi dalam semalam, tetapi jika kita semua bersedia untuk mencoba, untuk melatih diri agar berpikir kritis dan berbicara dengan tegas, saya yakin kita bisa mengubah masa depan gereja kita. Kita bisa menjadikan GKPS sebagai gereja yang lebih dinamis, yang tidak hanya diam, tetapi juga bergerak maju, yang tidak takut untuk menghadapi tantangan, dan yang mampu berkembang seiring berjalannya waktu. Itu adalah harapan saya, dan saya percaya, jika kita semua berusaha, perubahan itu akan datang.
Dalam menghadapi realitas mentalitas diam yang mendalam, gereja kita perlu mengingat panggilan Alkitab untuk menjadi komunitas yang aktif dan bertanggung jawab. Dalam 1 Timotius 3:2-3, Rasul Paulus memberikan gambaran tentang pemimpin yang harus memiliki sikap bijaksana, tidak tergesa-gesa, dan mampu mengajarkan dengan penuh keyakinan. “Seorang pemimpin yang baik haruslah seorang yang tidak mabuk, tidak suka bertengkar, tidak serakah, tetapi ramah, suka memberi, dan suka berdamai.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa pemimpin gereja seharusnya mampu berpikir kritis, berbicara dengan bijaksana, dan tidak takut untuk menghadapi kenyataan, sekaligus memberikan teladan yang baik dalam bertindak. Dalam konteks gereja GKPS, kita dipanggil untuk menciptakan ruang di mana pemikiran yang kritis dan diskusi yang sehat tidak hanya diterima, tetapi dihargai.