Dalam perjalanan panjang melayani, ada kalanya beban terasa begitu berat. Kita memandang sekitar, membandingkan diri dengan gereja-gereja lain yang seolah lebih maju, lebih kuat, dan lebih bercahaya. Sementara itu, kita merasa seperti terus tertinggal – dalam sarana, dalam keputusan-keputusan, bahkan dalam kesejahteraan. Waktu-waktu ini membawa kita bertanya: Apakah gereja ini memang gereja Tuhan? Mengapa segalanya tampak stagnan atau bahkan merosot? Dan lebih dari itu, mengapa kita justru mendapati diri sibuk mengeluh dan semakin jauh dari rasa syukur?
Gereja yang Diuji adalah Gereja yang Dipelihara.Ingatlah, gereja bukanlah karya manusia semata. Ia adalah karya Tuhan, dirajut dalam kebesaran kasih dan hikmat-Nya. Tetapi seperti perahu murid-murid di tengah badai, kadang kala gereja memang harus menghadapi gelombang besar yang mengguncang. Bukan karena Tuhan menutup mata, melainkan justru agar kita berlatih menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.
Roma 8:28 mengatakan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Apa maksudnya? Kita dipanggil untuk mempercayai bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam hal-hal yang kita rasa sebagai kemunduran. Kekurangan fasilitas, kebijakan yang macet, kesejahteraan yang kecil, dan harapan-harapan yang tidak terwujud bukanlah akhir dari kisah gereja ini. Itu hanyalah lembaran ujian yang sedang Tuhan perkenankan.
Gereja yang diuji tidak akan dibiarkan begitu saja. Ia justru dipelihara dengan tangan Tuhan sendiri.
Mengubah Keluh Menjadi Syukur. Mari kita jujur – mengeluh adalah reaksi alami. Namun, jika hanya itu yang menguasai hati kita, tanpa sadar kita sedang melupakan kuasa Tuhan. Kita mengeluh karena kita merasa apa yang ada tidak cukup, atau harapan kita tidak terpenuhi. Tetapi, bukankah pelayanan adalah undangan untuk menjadi saksi dari rencana Tuhan yang lebih besar?
Sambil menunggu rencana Tuhan itu nyata, apakah kita tidak bisa melatih hati ini untuk bersyukur? Bersyukur bukan berarti menyangkal kenyataan, tetapi percaya bahwa dalam kekurangan ada kekuatan Tuhan yang sedang bekerja. Bersyukur berarti tetap memuji Tuhan walau situasi terasa sempit. Bukankah Kristus sendiri yang mengajarkan, “Berilah makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan”? Itu adalah bukti bahwa Dia tidak pernah membiarkan gereja-Nya kekurangan.
Milik Tuhan, Bukan Milik Kita. Gereja ini, GKPS, adalah milik Tuhan. Bukan milik pendeta, jemaat, atau bahkan Sinode Bolon. Bukan juga hanya milik sejarah atau budaya Simalungun. Ketika kita merasa seolah segala keputusan salah, kemajuan lambat, dan masalah bertumpuk, kita harus mengingat ini: Tugas kita bukanlah menjadi penentu akhir. Tugas kita adalah percaya, bekerja, melayani, dan berdoa.
Dalam setiap pelayanan kita, seringkali ada harapan manusia yang tersisip: harapan untuk melihat hasil cepat, harapan untuk pengakuan, atau harapan agar semua berjalan sempurna. Tetapi Tuhan mengingatkan: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku.” (Zakharia 4:6).
Jangan biarkan keluh kesah merenggut kepercayaan ini. Sebab saat kita sibuk kecewa, kita lupa bahwa Tuhan masih bekerja. Gereja ini—bahkan dalam kondisi serapuh apa pun—adalah milik-Nya yang mahal dan tak akan pernah Dia tinggalkan.
Tuhan Punya Rencana. Ketika Rumah Sakit Bethesda menutup pintunya, hati kita mungkin remuk. Tetapi siapakah kita yang tahu bagaimana rencana Tuhan untuk mencipta pengharapan baru? Ketika Proyek Pengembangan Masyarakat (PELPEM) tak lagi berjalan, apakah kita bisa membayangkan bagaimana Tuhan hendak membangun manusia melalui cara yang baru? Ketika Salib Besar Sigiring-giring yang direncanakan gagal berdiri megah, apakah itu artinya Tuhan berhenti menunjukkan kuasa-Nya? Sama sekali tidak.
Tuhan punya rencana, dan rencana itu melampaui akal manusia. Dia tidak pernah berhenti membangun gereja-Nya.
Kawan-kawan pendeta GKPS, marilah kita kembali percaya bahwa ada sesuatu yang sedang disiapkan Tuhan, yang mungkin tidak kita lihat sekarang. Jangan biarkan kemerosotan tampak menjadi bayang-bayang akhir. Sebaliknya, jadikan setiap hambatan sebagai kesempatan untuk kembali mengarahkan mata pada Kristus. Jangan hanya melihat gedung2 yang terlantar kosong, kebijakan yang macet, atau rendahnya gaji kita. Pandanglah pelayanan ini sebagai langkah iman untuk menunggu janji Tuhan digenapi dalam cara-Nya.
Sebagai Mitra-Nya, Bukan Pengeluh. Sebagai hamba Tuhan, kita diberi kehormatan menjadi mitra kerja-Nya. Tetapi mitra Tuhan tidak dipanggil untuk hanya mengeluh dan bersungut-sungut. Dia memanggil kita untuk berjalan dalam iman dan tetap bekerja, bahkan dalam keterbatasan.
Kita mungkin hanya menabur dalam tangis hari ini, tetapi percayalah bahwa kelak kita akan menuai dalam sukacita. Kekuatan pelayanan kita bukan terletak pada anggaran gereja, besarnya fasilitas, atau nama besar organisasi, melainkan pada kuasa Kristus yang bekerja di dalam kita.
Yeremia 29:11 mengatakan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Biarlah ayat ini menguatkan hati kita.
Sukacita Pelayanan Sejati. Pendeta-pendeta GKPS yg sy hormati dan yang terkasih, biarlah kita merenungkan kembali panggilan suci ini. Saat hati penuh keluh kesah, bawalah kepada Tuhan dalam doa. Beranikan diri bersyukur, bahkan untuk hal yang kecil—kesempatan untuk melayani satu jiwa, satu keluarga, satu persekutuan doa.
Sukacita kita ada dalam mengikut Dia, bukan pada kondisi duniawi yang sempurna. Ingatlah bahwa sukacita pelayanan sejati terletak dalam iman bahwa Kristus yang sama memimpin gereja ini. Dan jika gereja ini, GKPS, adalah milik-Nya, maka Dia tidak akan membiarkannya tenggelam, melainkan menumbuhkan dan memperbarui, dalam waktu-Nya yang sempurna.
Gereja ini bukanlah organisasi duniawi biasa. Ini adalah gereja Tuhan, tempat tubuh Kristus tinggal. Apapun yang terjadi hari ini, masa depan ada di tangan Tuhan. Maka, berhentilah mengeluh dan mulailah mempercayakan segala sesuatunya kepada-Nya. Sebab Dia tidak pernah melupakan kita – atau gereja ini.